Tolak BHP, Polisi Bentrok dengan Mahasiswa



Polisi dan mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) bentrok. Polisi dan mahasiswa saling lempar batu di kampus Unhas. Bentrokan ini berawal dari aksi yang digelar oleh mahasiswa unhas menolak rencana pengesahan RUU BHP oleh pemerintah dan DPR, pada Rabu 17 desember. Aksi yang digelar oleh mahasiswa sejak pukul 09.30, di pintu satu kampus unhas semula berjalan damai. Namunh aksi berubah menjadi brutal lantaran mahasiswa tidak terima dengan kehadiran polisi yang ingin membubarkan aksi mahasiswa. Ketidak terimaan mahasiswa ini, lantaran sehari sebelumnya aksi yang dilakukan oleh mahasiswa ditempat yang sama dibubarkan secara paksa oleh pihak kepolisian, sehingga terjadi saling melempar batu antara kedua belah pihak.

Bentrokan mulai terjadi sekitar pukul 14.00 Wita. Ratusan aparat kepolisian mulai merangsek masuk ke dalam kampus. Tindakan tersebut mendapat perlawanan dari mahasiswa. Mahasiswa melakukan perlawanan seadanya dengan menggunakan batu sebagai senjata untuk menandingi apart kepolisian yang menggunakan peralatan lengkap. Dalam sekejap suasana kampus unhas menjadi gaduh. Aksi saling lempar batu antara kedua belah pihak tidak dapat terhindarkan. Mahasiswa terus menghalau aparat kepolisian dengan lemparan batu ke arah aparat kepolisian yang semakin beringas memukul dan melempar mahasiswa. Aksi saling lempar dan kejar-kejaran antara mahasiswa dan pihak kepolisian berlangsung hingga 200 meter, masuk ke arah kampus. Klimaksnya ketika salah seorang mahasiswa unhas diciduk secara paksa oleh polisi. Aksi tersebut terjadi saat rector unhas mencoba memberikan pengarahan kepada mahasiswa. Namun pada saat yang bersamaan pula seorang mahasiswa yang terpisah dari kerumunan ditarik secara paksa oleh polisi yang berpakaian preman. Mahasiswa yang diciduk tersebut digelandang, lalu secara membabi buta aparat kepolisian menginjaki kepala mahasiswa tersebut dengan sepatu laras secara bergantian tanpa ampun.

Rektor Unhas, Idrus Paturusi, mencoba turun tangan langsung menenangkan para mahasiswa. Namun usaha itu belum membuahkan hasil sedikitpun. Suasana di dalam kampus Unhas tetap panas. Sebelumnya, pembantu Rektor bidang kemahasiswaan lebih dahulu berada di tempat bentrokan untuk melerai kedua belah pihak agar menahan diri. Namun, aksi baru reda dua jam kemudian atau sekitar pukul 16.00 Wita, setelah Rektor Unhas meminta pihak kepolisian untuk mundur.

sumber foto: detiknews
[Read More...]


Revitalisasi Peran Lembaga Kemahasiswaan



Revitalisasi Peran Lembaga Kemahasiswaan
(Tanggapan atas Tanggapan Wiwin Suwandi)
Oleh: Aryanto Abidin*
*Penulis adalah wakil Presiden BEM Unhas 2006-2007,
Sekum HMI Komisariat Perikanan 2002-2003.
(Dimuat di Penerbitan Kampus Identitas edisi awal Juni 2007)

Membaca tulisan saudara Wiwin Suwandi yang berjudul Reposisi Peran Lembaga Kemahasiswaan (identitas, edisi awal Mei 2007), sepertinya kita diajak untuk membedah fenomena kemahasiswaan kita. Tulisan tersebut merupakan tanggapan atas tulisan penulis yang berjudul Matinya Lembaga Kemahasiswaan Kita (Identitas, edisi Awal April 2007). Tulisan tersebut (meminjam istilahnya Wiwin Suwandi) merupakan teguran universal bagi siapa saja, termasuk bagi penulis sendiri. Dalam tulisannya tersebut Wiwin Suwandi, menitik beratkan pada dua permasalahan sebagai pijakan berpikirnya, yakni ideologi gerakan dan metode pengkaderan. Sayanganya, Wiwin Suwandi tidak secara tegas menjelaskan dasar keyakinannya, sehingga peran lembaga kemahasiswaan perlu direposisi. Akibatnya, wilayah analisisnya hanya bermain pada wilayah periferi dan terkesan hambar.

Wiwin Suwandi juga berulang kali mengambil sampel tentang gerakan mahasiswa ’98, yang mampu menumbangkan rerzim orde baru, sebagai contoh ideal dan referensi berharga akan perlawanan mahasiswa melawan rezim otoriter. Dalam pandangan saya, gerakan mahasiswa ’98 justru gagal mengawal reformasi yang telah mereka mulai. Padahal, gerakan mahasiswa ’98 seharusnya membuat rencana strategis jangka panjang untuk mengawal reformasi. Sayangnya, gerakan mahasiswa ’98 terkesan hanya untuk menjatuhkan rezim yang berkuasa pada saat itu. Maka jadilah gerakan mahasiswa tak ubahnya seperti koboi yang turun gunung jika terjadi ketidak beresan, lalu setelah aman, kembali ke habitat semula dan membiarkan orang-orang yang tidak bertanggung jawab memerintah kembali. Apapun namanya, melalui tulisannya tersebut, Wiwin Suwandi telah melakukan hal yang terbaik, yakni sebuah ijtihat intelektual yang mencerahkan.

Butuh Revitalisasi

Menyelami lebih jauh tanggapan Wiwin Suwandi tersebut, justru menimbulkan keresahan dan tanda tanya baru bagi kita, termasuk penulis sendiri. Reposisi peran seperti apakah yang coba ditawarkan oleh Wiwin Suwandi, sebagai ‘obat kuat’ atas mandulnya lembaga kemahasiswaan kita? Serta mulai dari mana? Setidaknya itulah pertanyaan-pertanyaan retoris yang patut kita gugat kepada Wiwin Suwandi. Padahal, kita harus memiliki pijakan awal yang jelas untuk mengatakan bahwa lembaga kemahasiswaan itu harus direposisi.

Agaknya Wiwin Suwandi lupa, bahwa peran lembaga kemahasiswaan yang termanifestasi dalam gerakan mahasiswa adalah mengawal demokrasi dengan mengusung gerakan moral dan gerakan politik. Hanya saja untuk konteks kekinian, hal itu nyaris hilang dari lembaga kemahasiswaan kita. Menurut hemat saya, peran lembaga kemahasiswaan tidak perlu direposisi, akan tetapi hanya butuh revitalisasi atau penguatan kembali. Hal ini disebabkan karena eksistensi lembaga kemahasiswaan tetap memposisikan dirinya berada pada kerangka ideal tersebut, yakni gerakan moral dan gerakan politik. Maka jangan heran, kalau gerakan mahasiswa yang berjalan sekarang terkesan responsif dan cenderung reaksional. Dalam artian, gerakan mahasiswa hanya ingin terlihat populis agar tidak dibilang mati, serta agar terlihat macho. Setelah itu, gerakan mahasiswa pulang ke kandangnya (baca:kampus) sambil menunggu (untuk tidak dibilang tidur pulas) isu yang lebih populis dan seksi. Seperti itulah gerakan mahasiswa kita sekarang. Untuk itu, gerakan mahasiswa tidak boleh hanya mengandalkan gerakan yang berbasis masa dan gerakan moral saja, akan tetapi perlu penguatan pada basis gerakan politik ekstra parlementer. Gerakan politik tidak lantas diidentikan dengan partai politik, walaupun pada kesempatan tertentu pengamat sosial dan budaya dari UI Fajroel Rahman menyarankan, agar gerakan mahasiswa merebut dan membangun kekuasaan lewat partai politik berbasis mahasiswa (lihat:www.jurnalnasional.com). Menurut Andi Rahmat, mantan ketua KAMMI Pusat mengatakan, gerakan politik harus dimaknai sebagai upaya mempengaruhi kebijakan (Sabili,28/2/2001:69). Namun, gerakan politik tidak boleh berhenti pada upaya mempengaruhi kebijakan saja, akan tetapi juga harus mengawal kebijakan. Hal ini perlu, agar demokrasi tidak dibajak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab (baca: demokrasi kaum penjahat).

Revitalisasi juga perlu dilakukan pada tataran ideologi. Seperti yang juga dirisaukan oleh Wiwin Suwandi, bahwa gerakan mahasiswa harus memiliki ideologi yang jelas. pada tataran ini penulis sangat sependapat, sebab tanpa ideologi, gerakan mahasiswa seperti sebuah bangunan yang rapuh dan terkesan hambar dalam tataran praksisnya. Harus diingat juga, bahwa perbedaan ideologi antar kelompok gerakan, merupakan potensi besar yang dapat memicu pecahnya gerakan mahasiswa. Hal ini tergantung bagaimana kita cerdas mengelola perbedaan tersebut. Adalah suatu hal yang utopis bila kita ingin menyatukan ideologi antar kelompok pergerakan. Karena tiap-tiap kelompok pergerakan punya karakter dan ciri tersendiri. Oleh karena itu, perbedaan ideologi harus bisa didialogkan agar tidak terjadi superioritas masing-masing kelompok gerakan. Hal ini perlu dilakukan guna mencari titik temu antar kelompok pergerakaan yang berbeda ideologi. Maka, titik temu yang paling indah adalah pada kesamaan wacana dan isu gerakan yang diusung. Dengan demikian, maka perbedaan ideologi gerakan akan menjelma menjadi kekuatan besar. Bukankah pluralitas itu indah dan seksi?

Diskursus Gerakan dan Kerelaan Mayoritas

Diskursus (baca:wacana) gerakan mahasiswa akan sedikit menarik jika kita reflesikan pada institusi yang bernama unhas. Dalam pandangan saya, gerakan mahasiswa unhas memiliki ciri khas tersendiri, yakni kemapanan wacana gerakan. Sayangnya wacana gerakan tidak pernah membumi. Wacana gerakan hanya milik pribadi elit lembaga kemahasiswaan, akibatnya wacana gerakan terkesan melangit. Oleh karenanya, aktivis mahasiswa harus mampu membina kemesraan dengan media kampus sebagai tools penunjang dalam membumikan wacana gerakan. Pada tataran ini, hampir tidak ditemukan aktivis mahasiswa yang mampu memainkan peran tersebut. Padahal, pertarungan kita sekarang adalah pertarungan wacana. Maka benarlah Gramsci lewat teori hegemoninya, siapa yang menguasai kepala orang (baca:wacana), maka ia akan menjadi pemenangnya. Ambil contoh wacana unhas menuju BHP. Kalau kita jeli melihatnya, maka kita akan menemukan diskursus yang saling berkompetisi untuk menjadi pemenang yaitu antara birokrat kampus dan mahasiswa. Itu hanya contoh kecil.

Dalam konteks gerakan, meminjam terminologi HS Dillon (Kompas, 19 Mei 2007) rupa-rupanya kita belum punya kerelaan mayoritas. Kerelaan mayoritas untuk menanggalkan simbol primordial yang dapat merampas keutuhan gerakan mahasiswa. Simbol primordial dapat berupa superioritas fakultas, warna almamater, semangat fakultas yang bukan pada tempatnya. Sedikit berkaca pada aksi 2 Mei lalu dalam rangka memperingati Hardiknas. Hampir saja terjadi kejadian yang memalukan antar mahasiswa unhas sendiri. Persoalannya sepele, hanya karena membawa panji lembaga kemahasiswaan tingkat universitas. Walau sebelumnya ada kesepakatan tidak boleh ada panji lembaga kemahasiswaan selain panji Aliansi Mahasiswa Unhas.

Namun pada kenyataannya, panji fakultas berkibar angkuh di lokasi aksi. Ini menandakan semangat fakultas yang bukan pada tempatnya, masih kental mewarnai aksi mahasiswa unhas. Ditambah lagi jenderal lapangan yang terlalu akomodatif serta gampang didikte oleh bukan peserta aksi (pihak eksternal). Hasilnya, aksi yang amburadul. Orang-orang seperti ini layak diidentifikasi, agar tidak menodai kemurnian isu dan gerakan yang diusung. Maka, sulit untuk tidak mengatakan bahwa aksi 2 Mei lalu ternodai oleh pihak tertentu, terkait dengan pilkada sulsel. Ini menandakan ketidak konsistenan dalam menjaga kesatuan dan kemurnian isu yang diusung. Arogansi almamaterpun juga menjadi penyakit yang mematikan dalam konteks gerakan mahasiswa. Padahal, lembaga mahasiswa dan warna almamater hanyalah kendaraan dan simbol eksistensi. Yang harus kita lihat yakni, kesamaan isu dan kemurnian gerakan yang diusung. Warna almamater tidak harus menjadikan kita mengklaim bahwa isu pendidikan sebagaiamana yang diusung pada aksi 2 mei lalu, hanya milik sah alamater tertentu. Hal ini justru ada hubungan yang saling mematikan antara institusi dari almamater yang berbeda. Persoalannya hanya karena siapa yang mayoritas. Jika demikian, alangkah angkuhnya kita. Sekali lagi, hal itu terjadi karena kita belum punya semangat kebersamaan dan kerelaan mayoritas untuk menanggalkan simbol-simbol primordial yang melekat angkuh pada kedirian kita.

Mencari Energi Gerakan

Gerakan mahasiswa memang butuh ideologi sebagai energi gerakan, namun jangan lupa, ideologi gerakan saja tidak cukup. Masih banyak varian energi gerakan yang lain yang perlu dibenahi. Dengan demikian, gerakan mahasiswa tidak mengalami ‘ejakulasi dini’ serta memiliki nafas panjang dalam mengawal demokrasi. Sehingga gerakan dapat suistainable serta tidak bersifat reaksional. Mengutip Brian Yuliarto (www.brianyuliarto.com) yang mencoba menawarkan beberapa suplemen sebagai energi gerakan. Pertama, memiliki pemahaman yang baik tentang hakikat pergerakan. Tujuan akhir sebuah pergerakan selayaknya dipahami secara utuh oleh seluruh angota gerakan. Kedua, mampu menjaga ritme gerakan. dalam artian mengetahui kapan pergerakan harus bergerak cepat, kapan bergerak lambat atau bahkan tidak melakukan gerakan publik. Ketiga, mampu melihat permasalahan dengan baik. Keempat, memiliki pemimpin yang berkarakter. Pemimpin bukanlah segala-galanya bagi sebuah pergerakan, tetapi pemimpin yang tidak memiliki karakter kuat adalah awal kehancuran bagi sebuah gerakan. Tulisan ini hanyalah bagian dari ikhtiar penulis dalam membumikan wacana gerakan. Semoga!.
[Read More...]


Matinya Lembaga Kemahasiswaan Kita



Matinya Lembaga Kemahasiswaan Kita


Oleh: Aryanto Abidin
Penulis adalah Mahasiswa Perikanan, Wakil Presiden BEM Unhas
Pernah Bekerja pada Kebijakan Publik KAMMI Daerah Sulsel
(Dimuat di Penerbit Kampus Identitas edisi awal April 2007)

Ada apa dengan lembaga kemahasiswaan kita hari ini? Mungkin pertanyaan itu bercokol angkuh dalam akal sehat kita. Pertanyaan tersebut merupakan sebuah bentuk keresahan terhadap lemahnya (untuk tidak dibilang mandulnya) lembaga-lembaga kemahasiswaan kita dalam mengawal isu-isu ke-unhasan, serta isu regional maupun nasional. Kenyataan ini seolah memaksa kita untuk mengambil sebuah conclution, bahwa hampir semua lembaga kemahasiswaan kita hari ini mengalami disorientasi. Bahkan yang cukup mencengangkan lagi adalah, lembaga kemahasiswaan kita cenderung menjadi anjing penjaga (watch dog) kekuasaan. Ketidak berdayaan lembaga mahasiswa kita hari ini, seolah menjadi pembenaran atas matinya gerakan mahasiswa Unhas. Lalu dimanakah mereka yang mengatas namakan dirinya aktivis, para pimpinan lembaga fakultas maupun jurusan? Mungkinkah mereka sedang sibuk tawar menawar dengan kekuasaan atau dengan birokrat kampus ini? Ataukah mereka sedang gamang, lalu menjual idealisme dengan mengatas namakan mahasiswa?. Jika demikian, sungguh menjijikan dan patut kita sayangkan.



(Lembaga) Mahasiswa dan Kelelahan Idealisme

Hampir tidak ada yang membantah, jika akhir-akhir ini kondisi lembaga kemahasiswaan di republik ini sedang mengalami titik kejenuhan yang akut. Tak terkecuali di sulsel dan terkhusus di unhas. Kondisi ini seolah menjadi penyakit berkepanjangan yang tak kunjung sembuh. Lantas, gerangan apakah yang membuat lembaga-lembaga mahasiswa yang ada di Unhas bernasib demikian? Mungkinkah lembaga-lembaga mahasiswa gagal melakukan transformasi nilai dalam setiap jenjang pengkaderan? Ataukah sebaliknya, para mahasiswanya yang kesulitan menerima apa yang disuapi senior-seniornya dalam ruang-ruang pengkaderan?. Atau jangan-jangan kita lupa diri tentang eksistensi kita? Rasa-rasanya masih banyak pertanyaan nakal yang muncul dalam kepala kita masing-masing. Pertanyaan-pertanyaan di atas setidaknya sedikit mewakili dari sedikit kita yang resah.

Boleh jadi (lembaga) mahasiswa kita hari ini mengalami kelelahan idealisme sebagaimana yang disinyalir oleh Syahrin Harahap dalam bukunya yang berjudul Penegakan Moral Akademik di Dalam dan Di Luar kampus. Ada hal yang yang mencolok pasca reformasi 1998, gerakan mahasiswa mengalami tidur yang teramat panjang dan sesekali berkompromi dengan penguasa. Moral force tidak lagi menjadi roh bagi setiap gerakan mahasiswa, pun halnya yang terjadi di unhas. Kita teramat sulit untuk bersatu dan berteriak lantang di depan gedung berlantai delapan, yang berdiri mengangkang dan sesekali mengolok-olok kegirangan ke arah kita, lantaran kita tidak mampu berbuat banyak untuk mahasiswa. Kita juga teramat sulit berkumpul bersama di depan pintu satu sekedar meneriakan keresahan walau hanya sesekali.

Maka tidak heran jika muncul pertanyaan, gerangan apakah yang menyebabkannya demikian? Mengutip Syahrin Harahap (2005), pertama banyak dari mahasiswa mengalami kelelahan idealisme. Banyak dari kita (baca:mahasiswa) yang selama ini ideal, seringkali merasa sendiri, sehingga gerakan yang dibangunnya pun adalah gerakan yang kesepian, lalu menjadi gerakan yang merana. Akhirnya mereka menjadi pragmatis dan ikut arus dan terjebak di dalamnya. Kedua, terjebak dalam sektarianisme. Dalam konteks unhas, fenomena sektarianisme dapat terindikasi dari lemahnya komunikasi antar sesama lembaga mahasiswa tingkat fakultas (BEM/Senat), ditambah lagi dengan arogansi dan eksklusifitas fakultas masing-masing. Hal ini menimbulkan gejala superioritas pada masing-masing lembaga kemahasiswaan. Akibatnya lembaga kemahasiswaan saling berhadap-hadapan dalam mengawal isu serta dalam menyelesaikan permasalahan internal kelembagaan. Padahal, harusnya kita berhadap-hadapan dengan penguasa yang zalim atau pengelola kampus yang otoriter, serta tidak berpihak kepada kepentingan mahasiswa. Ketiga, terjebak dalam etika heteronom. Yang dimaksud dalam hal ini adalah terkait dengan motivasi suatu tindakan serta gagasan oleh gerakan mahasiswa, bukan karena rasa kewajiban untuk menegakan kebenaran, akan tetapi lebih banyak didominasi oleh motivasi pragmatis dalam berbagai bentuk pamrih. Selain itu, ada hal lain juga yang menurut saya turut menciptakan kelelahan idealisme. Adalah minimnya kesadaran kritis mahasiswa, akibatnya mahasiswa terseret arus yang begitu kuat yang berada diluar diri kita, yakni kapitalisme global yang hadir dalam bentuk kesenangan semu (hedonisme). Maka di sinilah peran lembaga-lembaga kemahasiswaan dibutuhkan. Lembaga mahasiswa harus mampu menginternalisasi nilai kearifan guna merangsang kesadaran kritis.

Borjuis imut-imut

Menjadi pengurus lembaga mahasiswa adalah sebuah pilihan sekaligus panggilan moral. Tidak semua orang mampu melakoninya, apalagi mengahiri pilihannya tersebut dengan indah dan penuh prestasi. Menjadi pengurus lembaga kemahasiswaan harus siap (mental) menerima kritikan. Sebab kalau tidak, mereka akan dilindas oleh kekerdilan jiwa mereka sendiri. Adalah menjadi hal yang lumrah jika mereka teramat dekat dengan pengambil kebijakan kampus. Namun yang menjadi masalah jika kedekatan itu terjalin karena hitung-hitungan pragmatis, maka bersiap-siaplah dicap sebagai penjilat. Pengurus lembaga kemahasiswaan terkadang menjadi tersanjung bila dipanggil rapat di tempat-tempat mewah, tanpa harus menganalisa lebih awal, ada apa di balik itu semua. Bukankah di kampus kita diajak berpikir kritis?

Ada fenomena menarik yang terjadi di kalangan pengurus-pengurus lembaga kemahasiswaan kita akhir-akhir ini. Sebut saja kebiasaan dari sebahagian mereka dalam menyelesaikan atau perbincangan tentang kemahasiswaan justru terbangnun dari kafe-kafe. Hal ini mengingatkan saya pada saat pemilu raya tahun lalu, dimana negosiasi politik lebih banyak terbangun dari kafe-kafe. Hal ini tidak salah, namun yang menjadi masalah jika wacana kemahasiswaan terlalu sering didiskusikan di kafe-kafe yang cenderung bernuansa remang-remang, maka wacananya pun menjadi bersifat elitis. Jadi, praktis yang paham tentang isu-isu kemahasiswaan adalah hanya para pengurus lembaga. Fenomena-fenomena tersebut di atas (meminjam istilahnya Alwi Rahman) yang ditengarai sebagai perilaku borjuis imut-imut di kalangan mahasiswa.

Fenomena lain adalah matinya kelompok-kelompok diskusi di kalangan mahasiswa. Anehnya, justru yang muncul adalah kelompok-kelompok gosip. Bahkan gosip sekarang tidak lagi lakon tunggal si mahasiswi (baca:perempuan) akan tetapi juga menjangkiti si mahasiswa (baca:laki-laki). Tema-tema gosippun beragam. Misalnya saja, apa merek ponsel? apa merek bedak dan gincu?, tipe cowok/cewek idaman, artis idola, apa merek jeansmu? atau malam mingguan nongkrong di mana?. Bahkan majalah-majalah mode dan remaja menjadi dominan mengisi tas mereka ketimbang buku bacaan yang mencerdaskan. Hal-hal tersebut seolah menjadi pembenaran atas kelelahan (baca:ke-bete’an) intelektual kita dalam membaca realitas. Kita menjadi bangga ketika kita memamerkan tipe HP keluaran terbaru atau merek-merek baju dan parfum terkenal. Atau sekedar memamerkan bagian-bagian tubuh hingga membentuk cetakan dan lekukan yang sebenarnya tidak pantas untuk dipamerkan. Kondisi seperti ini, membuat mereka seperti sedang mengalami puncak kenikmatan. Sepertinya (bagi mereka) hal tersebut terlalu mubadzir untuk tidak dilakoni. Fenomena-fenomena ini juga ditengarai sebagai perilaku borjuis imut-imut di kalangan mahasiswa.

Terjebak Arus Primordial

Seperti yang telah saya sebutkan di atas, bahwa salah satu perilaku primordial yang dominan mewarnai interaksi kemahasiswaan kita adalah ego fakultas. Ruang dilaetika antara sesama lembaga kemahasiswaan justru hampir tidak menemukan ruangnya. Sehingga menyebabkan munculnya jurang pembatas antara fakultas yang satu dengan yang lainnya teramat jauh. Boleh jadi hal ini muncul dari ruang pengkaderan kita yang cenderung fakultatif serta doktrin fakultas yang teramat kebablasan. Bukankah kita berada dalam ruang universal yang disebut dengan Universitas?. Oleh karenanya, kenapa kita tidak mencoba membangun sebuah metode pengkaderan yang menghargai universalitas? Sehingga dengan demikian melahirkan kebersamaan, serta menghargai perbedaan. Selain itu juga, persoalan pelik yang menimpa lembaga-lembaga kemahasiswaan kita adalah terlalu berlama-lama pada permasalahan internal. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi adalah kelompok-kelompok pergerakan justru gagal menemukan titik temu dalam membangun wacana gerakan. Kelompok-kelompok mahasiswa ini justru cenderung saling ’membid’ahkan’. Mereka merasa paling benar sendiri dan merasa kelompoknyalah yang paling ideal. Maka jadilah kebenaran itu hanyalah milik sah kelompok mereka (klaim kebenaran tunggal). Bukankah kebenaran itu banyak sisinya?. Mereka yang merasa benar sendiri tidak akan mampu melahirkan perubahan yang signifikan. Justru yang terjadi adalah gerakan yang mereka bangun adalah gerakan yang kesepian. Maka hampir dipastikan bahwa kelompok mahasiswa seperti inilah yang akan menghancurkan lembaga-lembaga kemahasiswaan kita. Wallahu’alam bishawaab.

[Read More...]


Halo, Apa Kabar Ospek?



Halo, Apa Kabar Ospek?
Oleh: Aryanto Abidin

Jika hati anda bergetar melihat penindasan, maka lawanlah
sebab diam adalah bentuk penghianatan

(Ernesto ‘Che’ Guevara)

Halo!, apa kabar Ospek?. Masihkah kau seperti dulu?. Masihkah kekerasan sebagai make-up yang membungkus wajahmu? masihkah kekerasan menjadi pemanis ritualmu?. Prosesi penyambutan Mahasiswa Baru kalau tidak ingin disebut ‘Mangsa Baru’ bagi senior-seniornya. Betapa tidak, setiap mahasiswa baru mendapat perlakuan yang sangat tidak etis bahkan bisa dikatakan saling berjabat tangan dengan pelanggaran HAM (Penindasan,pemerasan dan kekerasan). Prosesi penyambutan mahasiswa baru atau yang lebih sakralnya disebut “OSPEK”, kini lagi marak-maraknya. Di kampus merah ini pun persiapan untuk penyambutan sudah disiapkan jauh-jauh hari. Bahkan konon kabarnya lebih baik program kerja yang lainnya tidak jalan ketimbang Ospek. Ospek seperti kita ketahui bersama sangat rentan dan memberi peluang bagi terjadinya kekerasan. Meskipun banyak pihak yang menentang ospek, namun hal itu dianggap angin lalu dan ospekpun “melenggang kangkung” menuai kekhawatiran di kalangan orang tua mahasiswa baru.

Dasar kita (baca: mahasiswa) memang tak pernah kehilangan akal. Dengan susah payah demi terlaksananya Ospek, lembaga-lembaga mahasiswa-pun menggagas yang namanya Ospek damai (mudah-mudahan bisa damai lahir maupun batin).

Untuk mempersiapkan ospek ini, lembaga-lembaga mahasiswa tingkat fakultas sudah memformatnya dua hingga tiga bulan sebelumnya. Bahkan untuk menciptakan Ospek Damai, mereka (baca: lembaga-lembaga Mahasiswa) sampai ‘Jatuh Bangun’ untuk membentuk suatu forum formal demi ter-Legitimate-nya kembali Ospek. Siapa sih yang mau melewatkan momen ospek ini ?. Selain merupakan lahan produktif untuk mengais rejeki nomplok, bagi senior-senior yang ingin ‘senter-senter’ maka ospeklah tempatnya. Bagi yang suka ‘pajak-pajak’ untuk sebungkus rokok atau satu botol Coca Cola, maka ospeklah tempatnya. Bagi senior-senior yang ‘Gila Hormat’, sangat sayang untuk melewatkan momen yang berharga ini.

Bagi para orang tua Mahasiswa Baru, ada kebanggan tersendiri di hati mereka sekaligus kedukaan yang mendalam. Kebanggan mereka adalah ketika mereka melihat nama anak-anak mereka terpampang di surat kabar atau pada saat hari pengumuman SPMB. Kedukaan mereka adalah ketika mendengar nama ospek. Ya, Ospek. Kata yang terdiri dari lima huruf ini tak jarang membuat ciut nyali. Ospek merupakan momok yang menakutkan yang kadang-kadang mengundang air mata, meminta darah, cacat fisik, dan tak jarang meminta nyawa tiap tahunnya sebagai tumbal egoisme senior. Anehnya lagi, seolah-olah peristiwa tersebut direstui pikiran dan hati nurani kita yang turut ambil bagian maupun yang memberi lampu hijau bagi terlaksananya ritual tersebut. Adakah hati kita bergetar melihat penindasan di depan mata kita. Maka kalau memang hati kita sudah seperti batu yang kokoh, lalu apa bedanya kita dengan binatang ?, atau bahkan lebih rendah daripada binatang. Mungkin kalimat tersebut tidak berlebihan karena mengingat manusia dibekali akal dan perasaan untuk memancarka nilai-nilai kemanusiaan di sekeliling kita. Bukankah tujuan penciptaan manusia dimuka bumi ini untuk menjadi khalifah?, dengan tujuan membumikan nilai-nilai ketuhanan. Kenapa kita tidak mencoba menghadirkan nilai-nilai ketuhanan dalam setiap aktivitas kita.

Kampus (katanya) merupakan tempat ilmiah, kini berubah menjadi pusat ‘berhala-berhala’ baru, dimana manusia yang ada di dalamnya cenderung ingin mempertontonkan dirinya sebagai Tuhan. Dalam kaitannya dengan ritual tahuanan ini kita akan dingatkan tentang dongeng Lucifer. Ya!, Lucifer sang malikat jahat yang diusir dari surga, kemudian menjadi manusia yang berperawakan tampan dan gagah diatas muka bumi ini yang setiap saat sangat haus akan darah. Mungkin seperti itulah kita sekarang ini. Di Unhas sendiri sejak berdirinya sampai sekarang, entah sudah berapa banyak darah, air mata, cacat fisik, dan nyawa yang dipersembahakan untuk memuja roh egoisme dalam ritual tahunan tersebut. Para orang tua Maba harus menelan ludah ketika anaknya menyodorkan daftar perlengkapan ospek yang mirip dengan daftar menu yang ada di hotel-hotel mewah. Ditambah lagi dana kelembagaan, yang bila semuanya dijumlahkan bisa melampaui uang pendidikan selama satu semester. Ingat kawan, Orang yang menginjakan kakinya (baca: kuliah) di Unhas ini bukanlah orang-orang dari golongan menengah ke atas saja. Ada beragam golongan yang kuliah di Unhas ini dan dengan berbagai latar belakang ekonomi yang beragam pula. Ada yang ekonominya menengah ke atas, kelas menegah dan kelas menengah ke bawah, mungkin aku masuk golongan yang terakhir ini. Bagi golongan menengah atas, uang sebesar ratusan ribu mungkin hanyalah jumlah nominal tagihan telepon mereka tiap bulan. Akan tetapi bagi golongan menengah ke bawah, jumlah nominal tersebut harus dengan bercucuran keringat atau pontang-panting meminjam ke tetangga. Kalupun kedua alternatif tersebut sudah tidak mungkin, mungkin jalan terakhir adalah meminjam pada rentenir dengan tawaran bunga yang tinggi yang kian hari kian membengkak.

Mereka harus rela menunggu anaknya di gerbang-gerbang fakultas hanya untuk menantikan detik-detik terakhir episode pembantaian tersebut. Mereka tidak pernah bermimpi bahwa sesampainya anak-anak mereka di pintu gerbang kampus, kemerdekaan mereka direnggut, darah mengalir, pulang dengan cacat pada bagian tubuh ataupun nyawa melayang. Toh mereka tetap tabah, hanya air matalah yang menjadi luapan emosi mereka. Dimana nurani kemanusiaan kita?. Apakah untuk membentuk karakter mahasiswa baru yang militant, kritis dan tercerahkan harus dengan kekerasan?. Tidak. Sekedar catatan, bahwa kekerasan tidak akan pernah membentuk pribadi yang militant, kritis dan tercerahkan akan tetapi justru akan membentuk karakter preman di kalangan mahasiswa baru serta melahirkan penindas-penindas baru dalam kampus ini. Sepertinya hal ini akan menjadi rantai setan yang sangat sulit diputuskan jika nuansa kekerasan masih mewarnai di setiap prosesi penyambutan mahasiswa baru. Ingat!, untuk membentuk karakter mahasiswa baru yang militant, kritis, dan tercerahkan tidak cukup dalam waktu hitungan hari akan tetapi butuh waktu dan proses yang lama.

Bagi orang tua Maba, ketika menyaksikan anaknya menjadi mahasiswa setidaknya memberi sedikit harapan atas mimpi-mimpi mereka tentang masa depan anaknya. Ospek yang memang sudah masuk dalam ‘buku hitam’ orang tua Mahasiswa Baru, bahkan sudah menjadi catatan kebencian bagi mereka. Seandaianya mereka diminta untuk menulisnya, maka Ia akan menuliskannya pada lembaran pertama buku hitamnya dengan menggunakan tinta berwarna “ sedih dan prihatin”.

Tindakan yang yang tidak sepantasnya dilakukan oleh sosok yang berlebel mahasiswa (Penidasan,pemerasan bahkan sampai pada pelecehan……???). Mahasiswa ! ya mahasiswa, konon kabarnya kelompok The middle Class yang satu ini mengkalaim dirinya sebagai kelompok yang anti penidasan, kelompok yang mewakili orang-orang tertindas, kelompok yang mewakili suara rakyat. Saya sangat ngeri ketika saya mengklaim diri saya sebagai orang yang anti penindasan lewat sumpah mahasiswa. Sumpah yang diucapakan secara lisan dan tidak pernah dimaknai itu, hanyalah formalitas atau ritual belaka ketika seseorang pertama kali memakai baju kebesarannya yang di depannya bertuliskan mahasiswa dan dengan dada membusung, kita tampil sebagai hero kesiangan. Saya takut nanti kita (baca: Mahasiswa) di cap sebagai ‘maling’, maksud saya maling teriak maling. Di satu sisi kita benci yang namanya penindasan dan kroni-kroninya, akan tetapi di lain pihak kita sendirilah yang mempeloporinya. Bahkan kita mengabadikannya dalam sebuah sumpah, Sumpah Mahasiswa. Ya…! Sumpah Mahasiswa yang sudah mulai mengalami distorsi makna dan esensinya ini. Adalah bukan hal yang tidak mungkin ketika dua puluh tahun atau tiga puluh tahun yang akan datang sumpah mahasiswa tidak dibutuhkan lagi, baik dari segi makna mapun dari esensi. Atau mungkin sebaiknya diganti dengan sumpah binatang, [Kami mahasiswa Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa binatang], [Kami mahasiswa Indonesia mengaku bertanah air satu, tanah air penindasan] [Kami mahasiswa Indonesia mengaku berbahasa satu bahasa kekerasan]. Wallahualambishawaab.

[Read More...]


Popular Posts

Popular Posts Widget
 

Categories

Recent Comments

Stay Connected

http://www.text-link-ads.com/xml_blogger.php?inventory_key=L6TKZHMZ15BNNYYQULG7&feed;=2

About Me

My Photo
aryantoabidin
Welcome to my blog. Aryanto Abidin. That is my original name, while cyber name for this blog. I just ordinary people who are learning to read and understand the existence and I think about indonesiaan.
View my complete profile

Popular Posts

Return to top of page Copyright © 2010 | Platinum Theme Converted into Blogger Template by HackTutors