SEJARAH YAHUDI



Seperti telah ditunjukkan di awal, semua tanah Palestina, khususnya Yerusalem, adalah suci untuk orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Muslim. Alasannya adalah karena sebagian besar nabi-nabi Allah yang diutus untuk memperingatkan manusia menghabiskan sebagian atau seluruh kehidupannya di tanah ini.

Menurut studi sejarah yang didasarkan atas penggalian arkeologi dan lembaran-lembaran kitab suci, Nabi Ibrahim, putranya, dan sejumlah kecil manusia yang mengikutinya pertama kali pindah ke Palestina, yang dikenal kemudian sebagai Kanaan, pada abad kesembilan belas sebelum Masehi. Tafsir Al-Qur'an menunjukkan bahwa Ibrahim (Abraham) AS, diperkirakan tinggal di daerah Palestina yang dikenal saat ini sebagai Al-Khalil (Hebron), tinggal di sana bersama Nabi Luth (Lot). Al-Qur'an menyebutkan perpindahan ini sebagai berikut:

Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim", mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami seIamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. (Qur'an, 21:69-71)
Daerah ini, yang digambarkan sebagai “tanah yang telah Kami berkati,” diterangkan dalam berbagai keterangan Al-Qur'an yang mengacu kepada tanah Palestina.

Sebelum Ibrahim AS, bangsa Kanaan (Palestina) tadinya adalah penyembah berhala. Ibrahim meyakinkan mereka untuk meninggalkan kekafirannya dan mengakui satu Tuhan. Menurut sumber-sumber sejarah, beliau mendirikan rumah untuk istrinya Hajar dan putranya Isma’il (Ishmael) di Mekah dan sekitarnya, sementara istrinya yang lain Sarah, dan putra keduanya Ishaq (Isaac) tetap di Kanaan. Seperti itu pulalah, Al-Qur'an menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim mendirikan rumah untuk beberapa putranya di sekitar Baitul Haram, yang menurut penjelasan Al-Qur'an bertempat di lembah Mekah.

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (Qur'an, 14:37)

Akan tetapi, putra Ishaq Ya’kub (Jacob) pindah ke Mesir selama putranya Yusuf (Joseph) diberi tugas kenegaraan. (Putra-putra Ya’kub juga dikenang sebagai “Bani Israil.”) Setelah dibebaskannya Yusuf dari penjara dan penunjukan dirinya sebagai kepala bendahara Mesir, Bani Israel hidup dengan damai dan aman di Mesir.

Suatu kali, keadaan mereka berubah setelah berlalunya waktu, dan Firaun memperlakukan mereka dengan kekejaman yang dahsyat. Allah menjadikan Musa (Moses) nabi-Nya selama masa itu, dan memerintahkannya untuk membawa mereka keluar dari Mesir. Ia pergi ke Firaun, memintanya untuk meninggalkan keyakinan kafirnya dan menyerahkan diri kepada Allah, dan membebaskan Bani Israil yang disebut juga orang-orang Israel. Namun Firaun seorang tiran yang kejam dan bengis. Ia memperbudak Bani Israil, mempekerjakan mereka hingga hampir mati, dan kemudian memerintahkan dibunuhnya anak-anak lelaki. Meneruskan kekejamannya, ia memberi tanggapan penuh kebencian kepada Musa. Untuk mencegah pengikut-pengikutnya, yang sebenarnya adalah tukang-tukang sihirnya dari mempercayai Musa, ia mengancam memenggal tangan dan kakinya secara bersilangan.

Meskipun Firaun menolak permintaannya, Musa AS dan kaumnya meninggalkan Mesir, dengan pertolongan mukjizat Allah, sekitar tahun 1250 SM. Mereka tinggal di Semenanjung Sinai dan timur Kanaan. Dalam Al-Qur'an, Musa memerintahkan Bani Israil untuk memasuki Kanaan:

Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. (Qur'an, 5:21)

Setelah Musa AS, bangsa Israel tetap berdiam di Kanaan (Palestina). Menurut ahli sejarah, Daud (David) menjadi raja Israel dan membangun sebuah kerajaan berpengaruh. Selama pemerintahan putranya Sulaiman (Solomon), batas-batas Israel diperluas dari Sungai Nil di selatan hingga sungai Eufrat di negara Siria sekarang di utara. Ini adalah sebuah masa gemilang bagi kerajaan Israel dalam banyak bidang, terutama arsitektur. Di Yerusalem, Sulaiman membangun sebuah istana dan biara yang luar biasa. Setelah wafatnya, Allah mengutus banyak lagi nabi kepada Bani Israil meskipun dalam banyak hal mereka tidak mendengarkan mereka dan mengkhianati Allah.

Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mu'min dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Qur'an, 48:26)

Karena kemerosotan akhlaknya, kerajaan Israel mulai memudar dan ditempati oleh berbagai orang-orang penyembah berhala, dan bangsa Israel, yang juga dikenal sebagai Yahudi pada saat itu, diperbudak kembali. Ketika Palestina dikuasai oleh Kerajaaan Romawi, Nabi ‘Isa (Jesus) AS datang dan sekali lagi mengajak Bani Israel untuk meninggalkan kesombongannya, takhayulnya, dan pengkhianatannya, dan hidup menurut agama Allah. Sangat sedikit orang Yahudi yang meyakininya; sebagian besar Bani Israel mengingkarinya. Dan, seperti disebutkan Al-Qur'an, mereka itu yang: ": telah dila'nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan 'Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. (Al-Qur'an, 5:78) Setelah berlalunya waktu, Allah mempertemukan orang-orang Yahudi dengan bangsa Romawi, yang mengusir mereka semua keluar dari Palestina.

[Harun Yahya International]
Sumber : http://valkyriedwin.blogspot.com/2009/03/sejarah-yahudi.html
[Read More...]


PROTOKOL ZIONIS VERSI MAYER AMSHELL ROTHSCHILD



Berikut ini dipaparkan Protokol Zionis versi Mayer Amshell Rothschild yang disusun tahun 1773 di Judenstrasse, Frankfurt, Jerman. Protokol ini terdiri dari 25 Butir, yang kemudian dibeberkan dalam Konferensi Zionis I tahun 1897 di Swiss.

1. Manusia itu lebih banyak cenderung pada kejahatan ketimbang kebaikan. Sebab itu, Konspirasi harus mewujudkan ‘hasrat alami’ manusia ini. Hal ini akan diterapkan pada sistem pemerintahan dan kekuasaan. Bukankah pada masa dahulu manusia tunduk kepada penguasa tanpa pernah mengeluarkan kritik atau pembangkangan? Undang-undang hanyalah alat untuk membatasi rakyat, bukan untuk penguasa.

2. Kebebasan politik sesungguhnya utopis. Walau begitu, Konspirasi harus mempropagandakan ini ke tengah rakyat. Jika hal itu sudah dimakan rakyat, maka rakyat akan mudah membuang segala hak dan fasilitas yang telah didapatinya dari penguasa guna memperjuangkan idealisme yang utopis itu. Saat itulah, konspirasi bisa merebut hak dan fasilitas mereka.

3. Kekuatan uang selalu bisa mengalahkan segalanya. Agama yang bisa menguasai rakyat pada masa dahulu, kini mulai digulung dengan kampanye kebebasan. Namun rakyat banyak tidak tahu harus melakukan apa dengan kebebasan itu. Inilah tugas konspirasi untuk mengisinya demi kekuasaan, dengan kekuatan uang.

4. Demi tujuan, segala cara boleh dilakukan. Siapa pun yang ingin berkuasa, dia mestilah meraihnya dengan licik, pemerasan, dan pembalikkan opini. Keluhuran budi, etika, moral, dan sebagainya adalah keburukan dalam dunia politik.

5. Kebenaran adalah kekuatan konspirasi. Dengan kekuatan, segala yang diinginkan akan terlaksana.

6. Bagi kita yang hendak menaklukkan dunia secara finansial, kita harus tetap menjaga kerahasiaan. Suatu saat, kekuatan konspirasi akan mencapai tingkat di mana tidak ada kekuatan lain yang berani untuk menghalangi atau menghancurkannya. Setiap kecerobohan dari dalam, akan merusak program besar yang telah ditulis berabad-abad oleh para pendeta Yahudi.

7. Simpati rakyat harus diambil agar mereka bisa dimanfaatkan untuk kepentingan konspirasi. Massa rakyat adalah buta dan mudah dipengaruhi. Penguasa tidak akan bisa menggiring rakyat kecuali ia berlaku sebagai diktator. Inilah satu-satunya jalan.

8. Beberapa sarana untuk mencapai tujuan adalah: Minuman keras, narkotika, perusakan moral, seks, suap, dan sebagainya. Hal ini sangat penting untuk menghancurkan norma-norma kesusilaan masyarakat. Untuk itu, Konspirasi harus merekrut dan mendidik tenaga-tenaga muda untuk dijadikan sarana pencapaian tujuan tersebut.

9. Konspirasi akan menyalakan api peperangan secara terselubung. Bermain di kedua belah pihak. Sehingga Konspirasi akan memperoleh manfaat besar tetapi tetap aman dan efisien. Rakyat akan dilanda kecemasan yang mempermudah bagi konspirasi untuk menguasainya.

10. Konspirasi sengaja memproduksi slogan agar menjadi ‘tuhan’ bagi rakyat. Dengan slogan itu, pemerintahan aristokrasi keturunan yang tengah berkuasa di Perancis akan diruntuhkan. Setelah itu, Konspirasi akan membangun sebuah pemerintahan yang sesuai dengan Konspirasi.

11. Perang yang dikobarkan konspirasi secara diam-diam harus menyeret negara tetangga agar mereka terjebak utang. Konspirasi akan memetik keuntungan dari kondisi ini.

12. Pemerintahan bentukan Konspirasi harus diisi dengan orang-orang yang tunduk pada keinginan konspirasi. Tidak bisa lain.

13. Dengan emas, konspirasi akan menguasai opini dunia. Satu orang Yahudi yang menjadi korban sama dengan seribu orang non-Yahudi (Gentiles/Ghoyim) sebagai balasannya.

14. Setelah konspirasi berhasil merebut kekuasaan, maka pemerintahan baru yang dibentuk harus membasmi rezim lama yang dianggap bertanggungjawab atas terjadinya semua kekacauan ini. Hal tersebut akan menjadikan rakyat begitu percaya kepada konspirasi bahwa pemerintahan yang baru adalah pelindung dan pahlawan dimata mereka.

15. Krisis ekonomi yang dibuat akan memberikan hak baru kepada konspirasi, yaitu hak pemilik modal dalam penentuan arah kekuasaan. Ini akan menjadi kekuasaan turunan.

16. Penyusupan ke dalam jantung Freemason Eropa agar bisa mengefektifkan dan mengefisienkannya. Pembentukan Bluemasonry akan bisa dijadikan alat bagi konspirasi untuk memuluskan tujuannya.

17. Konspirasi akan membakar semangat rakyat hingga ke tingkat histeria. Saat itu rakyat akan menghancurkan apa saja yang kita mau, termasuk hukum dan agama. Kita akan mudah menghapus nama Tuhan dan susila dari kehidupan.

18. Perang jalanan harus ditimbulkan untuk membuat massa panik. Konspirasi akan mengambil keuntungan dari situasi itu.

19. Konspirasi akan menciptakan diplomat-diplomatnya untuk berfungsi setelah perang usai. Mereka akan menjadi penasehat politik, ekonomi, dan keuangan bagi rezim baru dan juga di tingkat internasional. Dengan demikian, konspirasi bisa semakin menancapkan kukunya dari balik layar.

20. Monopoli kegiatan perekonomian raksasa dengan dukungan modal yang dimiliki konspirasi adalah syarat utama untuk menundukkan dunia, hingga tidak ada satu kekutan non-Yahudi pun yang bisa menandinginya. Dengan demikian, kita bisa bebas memainkan krisis suatu negeri.

21. Penguasaan kekayaan alam negeri-negeri non-Yahudi mutlak dilakukan.

22. Meletuskan perang dan memberinya—menjual—senjata yang paling mematikan akan mempercepat penguasaan suatu negeri, yang tinggal dihuni oleh fakir miskin.

23. Satu rezim terselubung akan muncul setelah konspirasi berhasil melaksanakan programnya.

24. Pemuda harus dikuasai dan menjadikan mereka sebagai budak-budak konspirasi dengan jalan penyebarluasan dekadensi moral dan paham yang menyesatkan.

25. Konspirasi akan menyalahgunakan undang-undang yang ada pada suatu negara hingga negara tersebut hancur karenanya

Sumber : http://valkyriedwin.blogspot.com/
[Read More...]


ISI PROTOKOL ZIONIS VERSI THEODOR HERZL



Berikut ini dipaparkan Protokol Zionis versi Theodor Herzl yang disusun tahun 1895 di Basel-Swiss. Protokol ini terdiri dari 24 Butir. Yang dipaparkan disini adalah Terjemahan Bahasa Rusia oleh Sergyei A. Nilus, yang dikemudian dialihbahasakan kembali ke Bahasa Inggris oleh Victor E. Marsden dengan judul “The Protocols Of The Learned Elders Of Zion”.

PROTOKOL KE 1:

Semboyan kita (kita disini maksudnya: zionisme/warga yahudi se dunia, pen) hanya ingin mencapai tujuan dengan kekuatan militer, kecanggihan teknologi perang, dan memasyarakatkan hidup bersenang-senang mengejar popularitas. Pandangan hidup kita hanyalah mampu menindas terlebih dahulu, kemudian bertanggung-jawab dalam suatu persoalan, atau berbuat jahat dan memasang jerat halus demi kepentingan kita

Kita pembuka jalan falsafah kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan yang menjadi topik aktual sepanjang masa (kini falsafah itu dikenal dengan istilah ‘demokrasi’, pen). Mereka yang menjunjung falsafah itu sebenarnya belum berfikir secara matang dan dewasa. Falsafah itu sebenarnya tidak bernilai, dan banyak masyarakat kaum awam yang terkecoh, dan tidak menyadari bahwa pengertian falsafah itu sebenarnya masih rancu dan diliputi oleh awan gelap.

Kata-kata itu telah diulang berkali-kali, dan mereka tertarik dengannya padahal telah menghancurkan kemakmuran dunia dan kebebasan perorangan yang sesungguhnya. Orang-orang non-yahudi yang dianggap sebagai orang pandai dan berfikiran cerdas tidak memahami simbolisme yang terkandung dalam kata-kata yang diucapkannya itu; demikian pula mereka tidak melihat pertentangan yang terkandung di dalamnya, dan tidak pula menyadari bahkan dialam bebas tidak terdapat arti kata persamaan dalam bentuk apapun juga.

Slogan kita berupa kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan yang kita kumandangkan hanyalah jerat halus untuk menangkap mangsa dan sebagai sarana yang dapat menarik orang mendukung perjuangan kita dari seluruh pelosok dunia. Falsafah itu mampu membingungkan para pemimpin Kristen. Pada suatu saat falsafah itu mampu mematahkan tangga dan merontokkan persatuan. Dari sisi lain, falsafah itu akan menggulingkan kubu-kubu bangsawan non-Yahudi, yaitu kubu yang dipakai tempat perlindungan masyarakat yang hidup diatas planet bumi ini.

PROTOKOL KE 2:

Kita harus berusaha sekuat tenaga agar pertempuran yang terjadi antara dua negara tidak menjalar ke negara lain. Sehingga peperangan itu masih bisa dikendalikan, agar pihak kita dapat menguasai.

Disamping itu pihak yang bertempur selalu membutuhkan bantuan dari kita. Kita harus mengangkat orang yang tidak berpengalaman luas dalam pemerintahan, agar mudah diatur untuk diarahkan ke tujuan tertentu. Kita membutuhkan publik opini melalui surat-surat kabar kepada orang-orang non-Yahudi.

Ideologi kita kini telah berhasil dengan gemilang. Kemenangan ideologi kita melalui otak Darwin, Karl Marx, Adam Smith dan Nietzsche. Pandangan pikiran mereka mampu menggoyahkan ketenagaan masyarakat dunia.

Bagi orang yang tak menjalankan ajaran agama, ideologi semacam ini mudah diterima. Surat kabar sebagai senjata utama, kini berada ditangan kita. Walaupun demikian kita harus bergerak di bawah tanah.

PROTOKOL KE 3:

Kini beban kita tinggal menerobos terowongan yang pendek, setelah itu daerah yang dikuasai oleh ular (lambang ‘Freemasonry’, organisasi bawah tanah dari gerakan Zionisme Internasional, pen) akan kita kunci. Bila sudah dikunci, berarti semua benua eropa akan tergenggam dalam tangan kita.

Kita harus mempertajam ketegangan pemerintah dengan rakyat. Agar wibawa pemerintah menjadi lemah dan rakyat pun tidak memiliki daya untuk bertindak, Kemudian kita akan mudah menguasai keduanya sesuai dengan tujuan kita. Kita harus mampu memberikan semangat agar para aktifis partai saling berebut kursi pemerintahan.

Kita harus mampu memberikan nasihat kepada kaum buruh dan pekerja seakan-akan memperoleh prioritas yang memuaskan dari kebijaksanaan dan undang-undang yang tertulis diatas kertas. Padahal tulisan itu hanyalah kebohongan belaka. Dengan demikian agen-agen Yahudi akan kita kirim untuk mengatur roda perusahaan sesuai tujuan kita. Kita harus mampu meningkatkan rasa benci dan dengki di kalangan buruh untuk meledakkan kemelut perekonomian dunia. Sarana yang tepat untuk menciptakan situasi seperti itu adalah emas yang telah kita genggam.

Kita harus mampu menanamkan rasa benci di hati kaum buruh agar tetap bermusuhan dengan orang kaya sejak kecil. Untuk merealisir program itu, kita tidak akan terbentur oleh bahaya, lantaran masyarakat Kristen yang sudah lemah akan mudah dikuasai, terutama menguasai pemerintah yang akan membinasakan Yahudi dari muka bumi ini.

PROTOKOL KE 4:

Gerakan ‘ Freemasonry’ akan melaksanakan tujuan-tujuan kita ini, dan sebagai penghalang bagi siapa saja yang akan membongkar program kita. Gerakan ‘Freemasonry’ akan mampu menghapus keyakinan bertuhan di tengah masyarakat Kristen, dan diganti dengan teori matematika dan teori relativitas. Kita harus berani mengarahkan orang-orang Kristen agar pikirannya hanya ke arah persaingan ekonomi dan industri. Situasi seperti itu diupayakan semakin tajam, agar terwujud masyarakat yang individualistis. Sehingga mereka akan apatis terhadap perjalanan politik, agama dan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Mereka hanya mengurus tenaga dan memeras otak demi mendapatkan harta. Dengan demikian mereka bergelimang dengan kehidupan materialisme dan mengabaikan ajaran-ajaran agama (kini giliran orang-orang muslim karena orang-orang kristen sudah ditaklukkan, pen).

Paham Liberal harus kita sebarkan ke seluruh dunia agar pengertian mengenai arti kebebasan (liberal) itu benar-benar menimbulkan dis-integrasi dan menghancurkan masyarakat non-Yahudi. Maka industri harus dilandaskan atas dasar yang bersifat spekulatif.

PROTOCLOS KE 5:

Kita harus mencemarkan nama pendeta dan ulama. Agar keduanya dipandang hina oleh gelandangan dipinggir jalan. Ada suatu langkah yang mampu membikin opini umum, yaitu kita harus mengajukan berbagai pandangan yang dapat menggoyahkan keyakinan-keyakinan sebelumnya yang sudah tertanam di hati dan pikiran masyarakat. Kalau usaha ini belum mendapatkan perhatian, maka masyarakat harus diberikan pandangan lagi yang secara sosial dapat diterima. Dengan cara ini, keyakinan lama yang sudah tertanam di hati manusia akan tergoyahkan, dan pada akhirnya akan tumbang, lantaran terdepak oleh perkembangan zaman. Pada akhirnya pendapat dan pandangan yang tidak searah dengan tujuan Yahudi (yaitu menjadikan ummat manusia hanya memuja materi, pen) akan musnah, dan di dunia akan jatuh ke dalam perangkap kesesatan.

Kita harus mampu membuka jalan agar kebobrokan mental manusia semakin bertambah, dan adat-istiadat porak-poranda. Dengan demikian perpecahan antar kelompok masyarakat akan terjadi dimana saja. Segala kekuatan yang melawan yahudi akan lenyap. Segala semangat akan luntur. Akhirnya faktor yang memberikan kemenangan kepada pihak kita akan nampak. Kita harus mengendalikan masyarakat Kristen dalam kondisi yang semakin rumit dan norma-norma sudah tidak dijunjung tinggi oleh masyarakat. Setelah itu mereka akan meminta kita memimpin dalam memasuki gerakan dunia. Bila posisi ini sudah kita raih, maka seluruh kekuatan pemerintah di dunia akan mudah diarahkan. Dari sini akan terwujud pemerintahan Internasional tertinggi yyang kekuasaannya meliputi seluruh dunia. Lembaga ini secara fungsional mempunyai peraturan yang berwibawa dan dipatuhi oleh seluruh umat manusia di dunia.

PROTOCOL KE 6:

Kita harus mampu mengatur penimbunan kekayaan yang amat besar yang dimiliki oleh orang-orang non-yahudi. Administrasinya harus dapat mengikis habis kekayaan itu secara berangsur-angsur. Kita harus menggunakan segala cara agar Lembaga pemerintah Internasional (semacam PBB, IMF, World Bank sekarang ini, pen) memiliki daya polularitas yang tinggi, sehingga dikenal oleh seluruh umat manusia yang hidup di dunia ini. Diusahakan agar bangsa yang patuh kepada lembaga ini merasa memperoleh perlindungan yang terjunjung tinggi harkat bangsanya.

Kini segala keningratan non-Yahudi telah punah, tinggal sektor pertanian. Walaupun begitu sektor pertanian tidak boleh diabaikan. Sebab tuan tanah sendiri bisa hidup merdeka dari genggaman kita. Oleh karena itu, kita harus berjuang untuk membebaskan tanah itu dari miliknya. Barangkali cara yang tepat adalah pajak dan biaya pengolahan tanah pertanian harus menanjak. Dengan demikian, tuan tanah akan berfikir seribu kali untuk menanam lagi. Jika situasi seperti itu berjalan terus, maka mereka akan segera menjual tanah itu. Kita harus berani memberikan semangat kepada masyarakat agar senang berfoya-foya dan malas. Tindakan ini akan mengakibatkan kebangkrutan bagi perusahaan dan pabrik non-Yahudi.

Kita harus membentuk persaingan tajam dalam perdagangan (ciri utama ekonomi Liberal, pen). Kita harus berani berusaha menaikkan gaji kaum buruh untuk menipu mereka. Dalam waktu yang sama kita harus menaikkan harga barang-barang pokok. Dengan dalih hasil panen mengalami penurunan. Kita harus berani mendorong kaum buruh untuk menenggak minuman keras agar produksi pabrik menurun drastis.

PROTOKOL KE 7:

Kita harus berani mendorong masyarakat Eropa dan selalu membantu menyebarkan isue buruk dan berbau permusuhan dengan penduduk yang tinggal di benua lain. Kebijaksanaan ini memberikan dua keuntungan bagi kita. Sebab, mereka mengetahui bahwa kita mampu melahirkan revolusi atau membuat peraturan sesuai dengan kehendak mereka. Bila ada pemerintah yang ingin menghambat tujuan kita, maka diupayakan negara tetangganya merasa terancam, pada akhirnya mengakibatkan peperangan dua negara. Apabila dua negara bersatu untuk menghancurkan kita, maka kita harus berani menyatakan perang dunia.

Agar segala rencana dapat dicapai, maka kita harus mampu membentuk opini masyarakat dunia. Tampaknya hal itu mudah kita capai, karena sarana yang paling efektif telah kita kuasai, yaitu surat kabar yang setiap hari terbit dengan oplag yang besar (dan kini ditambah stasiun tv, kantor berita, internet, pen).

Untuk menunjukkan kekuatan kita, maka salah satu negara harus diserbu dengan gerakan teroris dan tindakan-tindakan keji. Jika bangsa lain mengetahui kekuatan kita, maka Yahudi akan ditakuti oleh seluruh bangsa. Jika ada bangsa yang ingin melawan kita, maka akan kita gempur dengan senjata buatan Amerika dan buatan negeri lain yang menjadi sekutu kita.

PROTOKOL KE 8:

Pemerintah kita harus memahami bahwa kebudayaan suatu bangsa mempunyai peranan yang amat penting. Oleh karena itu pemerintah harus mampu menghimpun orang-orang senior seperti pengarang, ahli hukum, eksekutif, politikus, administrator yang telah lama duduk di sekolah kita dan telah ditempa dengan dokrin Yahudi. Para sarjana yang telah lulus universitas kita (universitas dengan kurikulum berbasis dokrin yahudi, pen) akan diterima dengan kewajiban ikatan kerja, yang penting biaya hidup mereka terjamin.

Pemerintah kita harus mampu menguasai sarjana ekonomi yang memiliki wawasan politik. Karena politikus yang ekonom memegang peranan penting dalam perjuangan kita. Kita berupaya agar kursi (kekuasaan) diduduki oleh orang yang tidak disegani oleh masyarakat. Minimal orang itu mempunyai perangai yang kurang baik sehingga rakyat akan mudah marah kepadanya, dan keduanya dapat kita kuasai.

PROTOKOL KE 9:

Kita harus dapat menguasai pejabat-pejabat non-Yahudi yang mengatur administrasi, untuk dirombak sebagaimana yang kita harapkan. Selain itu harus menempatkan orang-orang kita dalam lembaga pengatur negara. Kita berusaha agar administrasi suatu negara berjalan timpang. Kita banyak mendudukkan wakil-wakil dalam tubuh Legislatif, dan ikut serta dalam pemilihan umum.

Kita harus mampu mengarahkan misi surat kabar, disamping menguasai departemen Pendidikan. Karena pendidikan merupakan tonggak terpenting dalam kehidupan yang merdeka. Kini aktivis kita harus mampu menodai masa depan generasi mendatang dan mencemari generasi sekarang. Kita harus memberikan pelajaran pada generasi masa kini dengan pandangan-pandangan yang mengandung unsur merusak citrta bangsa. Sebagian orang menanyakan:”Apa yang harus kita lakukan, bila ada yang mengetahui program kita yang ingin merusak citra bangsa! Jawabnya: Kita harus merahasiakan rencana itu dan dalam menyalurkan ke masyarakat harus dengan penuh perhitungan. Tetapi jika ada yang terjadi diluar perhitungan kita, kita pun sudah mempersiapkan diri dengan kekuatan militer dan alat-alat tempur yang canggih. Pada suatu saat kita akan menyerbu dengan kekuatan yang mampu menggetarkan lawan yang menghadapi kita. Untuk menghadapi perlawanan semacam itu kita mempersiapkan terowongan di bawah tanah yang akan digunakan untuk meledakkan seluruh kota di dunia, termasuk dokumen-dokumen akan hangus.

PROTOKOL KE 10:

Kita harus memecah-belah keluarga masyarakat non-Yahudi dan menghapus adat-istiadat, serta kebudayaan mereka. Kita berusaha untuk memperoleh setiap sarjana dan cendekiawan agar mau bergabung dengan barisan kita. Kita harus dapat mendirikan pemerintahan otokrasi yang mudah diatur menurut haluan kita. Hal itu bisa dijangkau apabila seluruh lembaga baik legislatif , eksekutif maupun yudikatif dipegang oleh orang-orang yang tidak segan-segan menerima uang siluman. Kepemimpinan tertinggi akan dipegang oleh agen-agen kita yang mampu menjalankan pemerintahan sesuai dengan petunjuk kita.

PROTOKOL KE 11:

Tuhan telah menghendaki keturunan Israel sebagai petualang dunia yang hidup di berbagai negara. Kalau dipandang sepintas hal itu merupakan sisi kelemahan Israel. Namun petualangannya harus dimanfaatkan untuk memperkokoh posisi kita dan dijadikan sebagai jembatan emas untuk menduduki singgasana kerajaan dunia. Pesta-pesta yang diadakan oleh gerakan ‘Freemasonry’ merupakan tempat komunikasi antara kelompok-kkelompok kita (sekedar info saja, yayasan ‘Lions Club’ dan ‘Rotary Club’ di seluruh dunia dikendalikan oleh orang-orang ‘Freemasonry’ ini, pen). Kita bagaikan Singa (bukankah ‘Lions Club’ berarti ‘klub para Singa?”) dan orang-orang non-Yahudi laksanan kelompok biri-biri. Bila singa memasuki kandangnya, biri-biri hanyalah bisa memejamkan matanya dan menerima nasib malangnya.

PROTOKOL KE 12:

Dominasi kita harus merambah surat kabar yang membawa misi partai. Selain itu kita harus mampu mengontrolnya sebelum berita itu diedarkan, agar tidak mengungkap misi kita. Segala berita yang akan disiarkan lewat radio harus melalui pengawasan kita. Buku-buku berbobot harus dikenakan pajak yang tinggi, sedangkan buku murahan tidak dikenakan pajak, agar para sarjana enggan menulis buku. Perusahaan surat kabar akan kita beli untuk mengimbangi dan menjawab isi surat kabar independen yang lepas dari genggaman kita (kini tentu tak sebatas surat kabar, tapi meliputi pula: stasiun tv, kantor berita, majalah dan website terkenal di internet, pen).

PROTOKOL 13:

Kita harus berusaha agar opini umum tidak mengetahui permasalahan sebenarnya. Kita harus menghambat segala yang mengetengahkan buah pikiran yang benar. Hal itu bisa dilakukan dengan memuat berita lain yang menarik di surat kabar. Agen-agen kita yang menangani sektor penerbitan akan mampu mengumpulkan berita semacam itu. Pandangan masyarakat harus kita alihkan kepada hiburan (dunia entertaiment, pen), seni dan olah raga.

PROTOKOL KE 14:

Diupayakan di dunia ini hanya satu agama, yaitu agama Yahudi (inti ajaran agama yahudi adalah pemujaan materi atau paham materialisme, pen). Oleh karena itu segala keyakinan lainnya harus dikikis habis. Kalau dilihat di masa kini, banyak orang yang menyimpang dari agama. Pada hakekatnya kondisi seperti itulah yang menguntungkan yahudi. Di masa akan datang masyarakat dunia akan berduyun-duyun memasuki agama Musa yang menundukkan mereka berada di bawah telapak kaki yahudi. Pada saat itu, suara kritikan hanya tertuju kepada agama selain yahudi. Orang tak akan berani menelanjangi agama kita. Karena rahasia yang terkandung dalam ajaran agama Yahudi sangat dalam, dan ajarannya selalu diperjuangkan oleh pendeta-pendeta kita. Segala karya tulis yang mengkritik agama kita tidak diperkenankan terbit dan tersebar di masyarakat. Kita terus berjuang menyebar-luaskan tulisan sastra picisan di masyarakat negara adidaya (contohnya sekarang ini novel Harry Potter?, pen).

PROTOKOL KE 15:

Agen-agen rahasia kita harus disebar ke seluruh dunia. Mereka adalah anggota organisasi di bawah tanah dan gerakan ‘Freemasonry’. Bila bisa berjalan dengan baik, kita akan mempunyai polisi rahasia yang bergerak ke seluruh penjuru dunia. Dari mereka kita mendapatkan data-data akurat untuk mengatur segala persoalan yang penting. Kita harus sering mengadakan pertemuan anggota ‘Freemasonry’ sebelum memegang kekuasaan yang sempurna. Setelah berkuasa, kita akan mampu memusnahkan semua gerakan non-Yahudi dengan cara licin sehingga orang tidak akan menuding kita.

PROTOKOL KE 16:

Kita harus berani tampil di tengah masyarakat dan berjuang memimpin universitas yang ada sekarang. Setelah itu, penulisan sejarah akan kita tinjau kembali, dan menyisihkan sejarah yang menghujat nama bangsa Yahudi. Kritikan dari orang non-Yahudi tidak begitu bahaya, tetapi yang perlu diwaspadai adalah pendidikan yang berjalan dengan kurikulum mereka sendiri (bukan meniru kurikulum kita). Maka usahakan pendidikan semacam itu harus dilenyapkan. Bila tidak mampu, ia harus dikucilkan dari masyarakat. Segala macam yang melambangkan kemerdekaan berpendapat harus dilenyapkan, walaupun slogan itu pernah kita gunakan untuk meraih tujuan. Kita telah meletakkan program untuk menarik simpati masyarakat dengan memberi pelajaran empiris nyata (contohnya kurikulum berbasis kompetensi SD-SMA di Indonesia sekarang, pen), dan membuang pelajaran yang bersifat non-empiris (misalnya pendidikan budi-pekerti, pen). Pelajaran ini amat sistimatis, agar kaum pelajar tidak mampu berfikir luas, dan tidak mampu memecahkan persoalan tanpa bantuan orang lain. Jadi mereka bagaikan binatang ternak, yang dapat digiring menurut kehendak pengembala. Mereka hanya mentaati penjelasan dari guru tanpa berusaha untuk mendalaminya. Sistem ini telah berhasil kita suntikkan dalam sekolah di negeri Prancis, yang ditangani oleh aktivis yang bernama Bouro.

PROTOKOL KE 17 :

Kita selalu dituntut untuk mencemarkan nama baik pendeta dan ulama non-Yahudi, agar mereka terhina dimata rakyat. Dengan usaha ini dapat mengurangi misi perjalanan mereka yang menghambat perjuangan kita. Bila ada peluang yang baik, istana Paus akan kita runtuhkan dengan memakai orang lain yang akan menembak Paus di Vatikan. Bila ini terjadi, para penduduk dunia akan berduyun-duyun ke Vatikan, dan kita akan tampil seolah-olah menjadi pelopor penuntutan terhadap pelaku pembunuhan itu (usaha pembunuhan Paus pernah dilakukan tahun 1981, tapi gagal, pen). Cara seperti itu agar kita yang akan menduduki singgasana Paus. Dan yahudi akan menjadi Paus sejati dan kepala uskup Gereja Internasional.

PROTOKOL KE 18:

Di saat polisi menjaga keamanan negara dengan ketat, kita harus mampu mengadakan kerusuhan dan keonaran di masyarakat (departemen kepolisian di seluruh dunia selalu memperoleh bantuan Zionis Internasional untuk mendukung tujuan mereka, pen). Kemudian para penceramah diorganisir untuk menerangkan keadaan yang genting itu. Di saat itu kita dapat menemukan jalan keluarnya, sehingga masyarakat simpati kepada kita. Kebijaksanaan seperti ini akan kita gunakan secepatnya untuk memberikan perintah agar penjagaan semakin ditingkatkan. Peluang ini kita pakai untuk mengkoordinir para pendukung kita untuk mendapatkan tujuan.

PROTOKOL KE 19:

Politikus yang kita tangkap diusahakan tidak dianggap sebagai pahlawan, tetapi martabat mereka kita samakan dengan penyamun, pencoleng, pembunuh dan narapidana berat lainnya. Usahakan masyarakat menyamakan narapidana politik dengan kriminil agar masyarakat menilai jelek para politikus.

PROTOKOL KE 20:

Kita harus berusaha agar bantuan (hutang) luar negeri seakan-akan bantuan dalam negeri. Agar kekayaan negara yang hutang akan terus mengalir ke perbendahaaraan kita. Akal hewan bangsa non-yahudi tidak akan mengerti bahwa hutang kepada negara kapitalis akan menguras kekayaan negaranya sendiri. Sebab, bunga hutang itu akan diambil dari hasil bumi negaranya atau masukan keuangan lainnya. Sekarang kita telah menguasai kekayaan dunia dengan jalan memegang saham surat-surat berharga lainnya (inilah alasan pemaksaan dibukanya Pasar Modal dan Pasar Uang di negara-negara yang berhasil mereka “liberalisasikan ekonominya”, pen). Kita akan membentuk pemerintah yang hutang agar terus membutuhkan bantuan dari bank kita sehingga pemerintah negaranya akan tergenggam oleh kaum kapitalis.

PROTOKOL KE 21:

Kita akan mendukung pemerintahan di seluruh dunia dengan sejumlah besar ahli di bidang ekonomi. Itulah sebabnya ilmu pengetahuan Ekonomi merupakan ilmu utama yang diajarkan oleh orang Yahudi (hampir di seluruh negara di dunia, fakultas ekonomi selalu saja jumlahnya melebihi jumlah fakultas ilmu sosial dan exacta yang ada. Dan pelajaran ekonomi di SMA selalu memiliki bobot materi yang paling lengkap dibanding mata pelajaran lainnya, tak terkecuali di Indonesia saat ini, pen). Kita akan dibantu oleh bankir, industrialis, kaum yang bermodal, dan terutama para milyuner yang tak terhitung banyaknya. Karena segala sesuatu diatur dengan angka yang pasti.

PROTOKOL KE 22:

Emas selau memegang peranan terpenting, dan sekarang kita telah menguasainya dengan melewati beberapa usaha yang lama dan telah melintasi beberapa generasi. Oleh karena itu senjata ini harus mampu memainkan peranannya untuk menggapai tujuan kita dalam rangka menguasai dunia.
Untuk membentuk perdamaian diatas planet ini, perlu menggunakan sedikit kekerasan, yang semuanya dapat dilaksanakan di bawah panji-panji Zionisme.

PROTOKOL KE 23:

Mula-mula yang kita lakukan untuk memperkokoh kekuatan kerajaan kita, yaitu harus melenyapkan yayasan dan organisasi yang dulu bergerak untuk membela kita. Sebab bila ia dibiarkan, akan menjadi membahayakan kerajaan kita.
Kerajaan Israel akan menjadi kokoh atas kehendak Allah. Langkah pertama untuk menegakkan kerajaan itu adalah membasmi pikiran orang yang tidak berwawasan luas. Walaupun mereka dulu pernah dipakai tangga untuk mencapai tujuan kita yang mulia.

PROTOKOL KE 24:

Orang yang mengatur kerajaan kita harus dari keturunan Dawud (David), disamping tokoh-tokoh dari Zionis. Orang tersebut harus memiliki otak cemerlang, mampu mengendalikan hawa nafsunya, bisa bergaul dengan rakyat, bersih dari noda, berani berkorban untuk memenangkan kepentingan rakyat, lambang kejayaan, tangguh dan kharismatik ( figur dimaksud dalam keyakinan ummat Islam, disebut Dajjal, pen).

Sumber :
Klik di sini untuk melihat sumber asli tulisan ini
[Read More...]


REVITALISASI PANCASILA



Oleh: Azyumardi Azra.


Dalam pekan terakhir paling tidak, Pancasila kembali menjadi wacana publik. Beberapa lembaga, baik pemerintah maupun nonpemerintah menyelenggarakan diskusi, simposium, dan semacamnya mengenai Pancasila. Tak kurang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga menyampaikan pidato politik tentang Pancasila pada Hari Pancasila 1 Juni, yang pada intinya menekankan pentingnya Pancasila dalam kehidupan berbangsa-bernegara.

Bagi saya yang sejak Juni 2004 melalui berbagai artikel dan wawancara mengimbau perlunya membangkitkan kembali wacana publik tentang Pancasila, perkembangan tersebut cukup menggembirakan. Karena dengan demikian, Pancasila yang merupakan landasan bersama (common platform) atau sering juga disebut di kalangan kaum Muslimin sebagai ‘kalimatun sawa’, kembali mendapat perhatian yang sepantasnya sudah harus diberikan sejak beberapa tahun lalu.

Jika kita mengimbau perlunya menghidupkan kembali wacana publik tentang Pancasila, maka itu bukanlah didasari romantisme historis, kerinduan belaka terhadap masa lalu. Masa lalu yang pahit bagi Pancasila sudah dialami negara-bangsa Indonesia, ketika indoktrinasi P4 atas berbagai lapisan masyarakat, membuat Pancasila seolah-olah kehilangan ‘nama baik’.
Pemerintah Orde Baru tidak hanya melakukan dominasi dan hegemoni atas pemaknaan Pancasila, tetapi juga melakukan berbagai kebijakan dan tindakan yang bertentangan dengan pandangan dunia dan nilai-nilai Pancasila. Semua ini membuat banyak orang enggan membicarakan Pancasila; pembicaraan tentang Pancasila bahkan nyaris sebagai sesuatu yang tabu.

Revitalisasi Pancasila mendesak karena beberapa alasan internal dan eksternal. Secara internal, sejak masa berlangsungnya ‘Masa Reformasi’, beberapa faktor pemersatu bangsa jelas mengalami kemerosotan. Negara-bangsa yang berpusat di Jakarta semakin berkurang otoritasnya; sentralisme sebaliknya digantikan dengan desentralisasi dan otonomisasi daerah. Dalam hal terakhir ini kita menyaksikan bangkitnya sentimen provinsialisme dan etnisitas yang cenderung mengabaikan kepentingan dan integrasi nasional.

Pada saat yang sama, penghapusan kewajiban asas tunggal Pancasila yang diberlakukan sejak 1985, yang diikuti liberalisasi politik dengan sistem multipartai, juga menghasilkan berbagai ekses. Fragmentasi politik, baik di tingkat elite dan akar rumput terus berlanjut, yang sering berakhir dengan lenyapnya keadaban publik (public civility), dan cenderung disintegratif.

Pada saat yang sama, liberalisasi politik berbarengan dengan kegagalan negara menegakkan hukum, memberikan momentum bagi menguatnya religious-based ideologies, yang cenderung divisif, karena adanya berbagai aliran pemikiran, mazhab, dan semacamnya di dalam agama.
Bisa disaksikan, parpol-parpol yang berlandaskan agama --baik Islam maupun Kristen-- terus rentan pada perpecahan; landasan agama tidak mampu mengatasi perbedaan-perbedaan yang berimpitan dengan kontestasi pengaruh dan kekuasaan. Pada saat yang sama, terlihat pula peningkatan berbagai kelompok masyarakat yang bergerak atas religious-based ideologies dan atas nama agama.

Yang tak kurang pentingnya adalah serbuan globalisasi, yang tidak hanya menimbulkan disorientasi dan dislokasi sosial, tetapi juga bahkan mengakibatkan memudarnya identitas nasional dan bahkan jati diri bangsa. Globalisasi yang sesungguhnya juga punya nilai positif, sebaliknya justru lebih banyak menimbulkan ekses negatif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Revitalisasi Pancasila yang urgen itu bisa dimulai dengan menjadikan dasar negara ini kembali sebagai wacana publik, sehingga masyarakat merasakan bahwa Pancasila masih ada, dan masih dibutuhkan bagi negara-bangsa Indonesia. Selama 63 tahun lebih, Pancasila mampu mengayomi anak-anak bangsa yang begitu majemuk; viabilitas Pancasila dengan demikian telah teruji sebagai kerangka dasar bersama negara-bangsa Indonesia.

Selanjutnya, perlu dilakukan penilaian kembali (reassesment) tentang penafsiran dan pemahaman Pancasila, yang telah pernah dirumuskan di masa silam. Penafsiran monolitik sepatutnya ditinggalkan; apalagi kalau penafsiran tunggal tersebut didominasi rezim penguasa, yang menggunakan untuk kepentingan kekuasaan. Publik dan masyarakat memiliki hak semestinyalah terlibat dalam reassesment, dan rekontekstualisasi penafsiran Pancasila di tengah situasi dan tantangan yang terus berubah.

Terakhir, reaktualisasi nilai-nilai Pancasila dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Inilah tantangan yang tidak kurang beratnya. Karena selama masih terdapat dalam masyarakat banyak kontradiksi yang tidak sesuai dengan esensi dan nilai-nilai Pancasila, ketika itulah orang menganggap Pancasila sebagai lips-service belaka.

Kiriman dari by FB Rumah Pancasila
[Read More...]


Capres dan Neolib



Capres dan Neolib
Oleh : Aryanto Abidin

Kontestasi politik di republik ini kian ingar bingar saja. Klimaksnya adalah kontestasi pilpres. Para pasangan capres bermanuver dengan bahasa dan gayanya masing-masing. Ada yang “Pro rakyat”, ada yang “lanjutkan” dan ada juga yang “lebih cepat lebih baik”. Saling sikut satu sama lain amat sulit dihindarkan. Ada yang saling ungkit kesalahan masa lalu, ada juga yang mengumbar keberhasilan. Kemiskinan dieksploitasi habis-habisan, lalu ditelanjangi habis-habisan di forum debat capres. Kemiskinan hanya laku saat pemilu legislatif dan pilpres, setelah itu jangan harap dilirik kembali. Para capres dan pasangannya saling berebut dominasi di ruang publik. Seperti biasa, yang terjadi adalah mereka hanya menanamkan kesadaran palsu dan fantasi-fantasi gila tentang kemakmuran. Tapi, para kontestan punya cara tersendiri menjaga imej agar kosmetik yang bernama citra tak luntur. Terakhir yang paling menggelikan adalah saling lempar isu tentang penganut Neoliberalisme (Neolib).

Neoliberalisme menjadi pembicaraan yang hangat di media kita, baik elektonik maupun cetak. Diskusipun digelar dimana-mana, di tivi, di koranpun tak ketinggalan. Di kolong-kolong pohon pun oke. Di pasar, di kampus dan dimana-mana, kata Neoliberalisme terlalu memekakan telinga kita. Bahkan untuk sekedar menterjemahkannya dalam bahasa sehari-hari, kita terkadang kalang kabut. Neolib menjadi isu yang seksi, ia bak selebriti di musim pilpres seperti sekarang ini.

Neoliberalisme menjadi layak dibicarakan, lantaran ia tiba-tiba saja menjadi populis. Neolib dan capres adalah dua kata yang saling bersinggungan dalam konteks ideologi kita. Apalagi ditengah-tengah perhelatan politik seperti sekarang ini. Neolib adalah pelabelan terhadap orang atau lembaga yang menganut Neoliberalisme. Dalam kontestasi politik seperti sekarang ini, saling klaim siapa yang neolib dan yang bukan neolib menjadi buag bibir dimana-mana. Neoliberalisme tiba-tiba saja mendadak terkenal lantaran salah satu pasangan capres. Neoliberalisme menjadi alat legitimasi kampanye negatif. Saling tuduh siapa yang neolib menjadi tak terhindarkan.

Di tataran akar rumput seperti kita ini, pertanyaan tentang neolib tidak pernah bosan-bosannya kita ajukan. Oleh karena itu, kiranya saya tidak berlebihan bila mencoba mengutip roh daripada neoliberalisme itu.
Inti dari gagasan ekonomi-politik neoliberalisme adalah argumen bahwa pertumbuhan ekonomi akan optimal, jika dan hanya jika lalu-lintas barang/jasa/modal tidak dikontrol oleh regulasi apapun. Optimalisasi itu juga hanya akan terjadi bila digerakkan oleh konsep Homo Economics, yaitu barang/ jasa/modal dimiliki dan dikuasai oleh orang-perorang yang akan menggerakkannya untuk tujuan akumulasi laba pribadi sebesar-besarnya, sehingga private property pun menjadi absolut tanpa tanggung-jawab peran sosial apapun juga kecuali untuk akumulasi laba privat sebesar-besarnya. Keserakahan pun dimaklumkan sebagai sesuatu yang baik dan lumrah.
Dalam praktek Neoliberalisme, kalkulasi ekonomi menjadi panglima bagi semua masalah dan persoalan. Imbasnya adalah terjadinya peralihan regulasi dari lingkup arena sosial menjadi lingkup urusan personal saja. Neoliberalisme lebih mengutamakan kepentingan pemodal dan mengabaikan kepentingan nasional (rakyat). Posisi pemodal baik asing maupun domestic (kapitalis) lebih dominan atau pada posisi yang “sentral-substansial”. Sementara di sisi lain, posisi rakyat dan kepentingan nasional diletakkan pada posisi “marginal-residual” (pinggiran). Neoliberalisme mendorong pertumbuhan pasar bebas dan mereduksi intervensi negara seminimal mungkin. Dalam neoliberalisme pertumbuhan ekonomi sepenuhnya diserahkan pada mekanisme pasar. Tentu saja dengan mengharapkan berkah tangan ajaibnya pasar (invisible hand). Ganas memang!

Selama ini pembangunan negeri ini adalah tambal sulam dari utang luar negeri. Berkedok membantu, padahal menjajah. Secara langsung, dengan menguasai kekayaan alam kita. Secara tidak langsung, kita diharuskan mengikuti resep pemulihan ekonomi dari IMF. Sampai sekarang belum ada tanda-randa bangsa ini menuju kepada kata yang kita dambakan “sejahtera”. Yang terjadi adalah sebaliknya, kita semakin tergantung pada asing. Kita bukan benci kepada pihak asing, akan tetapi kita harus berdaulat dan bisa mengendalikan mereka. Di era sekarang ini, teramat naïf kalau kita menjadi anti asing. Hanya saja penekanan kepada mereka adalah kita harus berdaulat dan harus tunduk pada regulasi kita. Kepentingan rakyat harus berada pada posisi yang sentral-substansi bukan sebaliknya, menjadi terpinggirkan.

Ditengah kondisi bangsa kita sedang merangkak ini, tentunya butuh pemimpin yang mampu mengelola modal besar bangsa ini, menjadi sebuah bangsa yang mandiri dan sejahtera. Tentu saja dengan tidak mengorbankan harga diri bangsa ini kepada pihak asing. Kita butuh pemimpin yang berani menarik garis yang tegas dengan asing. Sekali lagi kita tidak anti asing, tapi harus terkontrol dan kedaulatan rakyat di atas segala-galanya. Tentunya perhelatan politik dalam rangka memilih pemimpin bangsa ini, merupakan momen yang harus kita masksimalkan. Memperdebatkan Neoliberalisme dalam podium debat capres saja tidak cukup. Menjadi tidak relevan jika para kontestan sekiranya tidak mempunyai komitmen kebangsaan yang kuat. Intinya adalah kedaulatan rakyat di atas segala-galanya. Semoga!


[Read More...]


Golkar Pasca Rapimnas



Oleh: Aryanto Abidin


Teka-teki kemana arah atau sikap Partai Golkar, akhirnya terjawab sudah. Partai Golkar memutuskan untuk tidak bersama SBY lagi. Setelah sebelumnya partai Golkar gagal menemukan titik temu dengan partai Demokrat. Kubu Demokrat menolak adanya cawapres tunggal yang akan mendampingi SBY. Rapimnas Partai Golkar (23/4) akhirnya mengusung JK sebagai capres. Keputusan tersebut diambil setelah mayoritas DPD I mendukung JK sebagai capres. Keputusan partai golkar, jelas mengubah konstelasi politik di tubuh partai-partai pengusung capres. JK pun merapat di kubu megawati. Pertanyaan awamnya adalah siapa yang akan menempati posisi cawapres jika keduanya berkoalisi? Rasa-rasanya pertanyaan itu terlalu dini untuk diajukan. Mengingat kedua partai tersebut sama-sama ngotot mengusung ketua umum masing-masing sebagai capres.

Secara historis, kedua partai ini sulit untuk membangun koalisi, mengingat kedua partai ini sering “berhadap-hadapan” semenjak orde baru. Apalagi PDIP merupakan partai yang teraniaya semasa orde baru. Realitas politik kekinianpun mendeskripsikan, bahwa PDIP adalah partai oposisi terhadap pemerintahan. Sedangkan Golkar memilih bergabung di pemerintahan. Golkar juga tidak terbiasa berada di luar kekuasaan. Lalu, siapakah yang akan mendampingi JK ataupun Megawati setelah keduanya gagal menemukan kesepakatan?

Bola Panas
Anjloknya perolehan suara Golkar dan PDIP pada pemilu legislatif 9 April lalu, membuat mereka harus memutar otak untuk bisa mengsung capres. Syarat minimal untuk mengusung capres yakni 25 persen perolehan suara pemilu legislatif. Jika tidak, mereka tidak bisa mengusung capres yang diinginkan. Dalam kalkulasi politik mau tidak mau, rumus politik yang harus dipakai adalah membangun koalisi dengan partai lain. Terutama dengan partai papan tengah (PKS, PAN, dan PKB) dan tiga partai terakhir dari sembilan partai yang lolos parliamentary threshold sekaligus kubu Megawati (PPP, Gerindra dan Hanura). Peta koalisi sebenarnya sudah mulai terbaca sejak satu bulan sebelum pemilu legislatif. Komunikasi politik antar partai politik semakin gencar dilakukan. Klimaksnya adalah setelah partai demokrat menunjukan konsistensi perolehan suara legislatif pada urutan teratas.

Manuver politik Golkar merapat ke PDIP, nyatanya kurang mendapat respon dari kubu Teuku Umar. Tanda-tanda PDIP sulit menerima kembali Golkar, sebenarnya sudah terbaca. Sinyal tersebut terbaca secara jelas, saat pertemuan JK dan Megawati pasca repimnas Golkar, di kediaman Megawati. Pada pertemuan itu, dikotomi partai oposisi dan partai pemerintah, menjadi sinyal penolakan oleh kubu Megawati. Sikap Golkar yang dianggap plin plan juga semakin menguatkan sinyal penolakan dari kubu Megawati. Kini posisi golkar semakin terjepit. Bola panas sekarang ada pada megawati. Siapakah tokoh yang akan digandeng oleh kubu megawati untuk jadi cawapres. Tokoh yang paling ideal untuk mendampingi Megawati adalah Prabowo. Prabowo lebih dapat diterima oleh semua kubu. Itu seandainya jika skenario Megawati jadi capres.

PDIP dan Megawati juga harus belajar dari pengalaman pemilu 2004 lalu. Walaupun pada saat itu posisi Megawati sebagai incumbent, akan tetapi perolehan suara PDIP menurun di urutan kedua di bawah golkar. Klimaksnya adalah megawati terjungkal dari kursi kepresidenan. Megawati dikalahkan oleh SBY, sekaligus representasi partai pendatang baru, partai Demokrat. Rumitnya mencari titik temu antara Megawati dan Prabowo tentang siapa yang akan menajadi capres, membuat keduanya masih bertahan dengan sikapnya yakni sama-sama ingin maju sebagai capres.

Dari segi elektabilitas, Prabowo lebih tinggi dibandingkan dengan Megawati. Tapi jangan lupa, suara Gerindra hanya lebih kurang 5 persen suara legislatif. Itu artinya prabowo harus merapat ke partai lain agar bisa memenuhi syarat minimal pecapresan yakni 25 persen perolehan suara partai. Prabowo bisa maju sebagai capres jika terjadi skenario baru. Bisa jadi Megawati mendorong putrinya untuk mendampingi Prabowo. Akan tetapi Prabowo dan Gerindra harus dapat “dikendalikan” oleh PDIP. Jika seandainya Megawati tetap maju sebagai capres, maka Prabowo harus tau diri dan menerima menjadi pendamping Megawati.

Faktor Prabowo

Prabowo dan Gerindra menjadi sosok dan partai yang fenomenal. Betapa tidak, prabowo merupakan tokoh militer yang cerdas dan lincah dalam membangun komunikasi politik dengan siapapun. Ia sangat lincah membangun komunikasi politik dengan sahabat-sahabat politiknya. Ia pun tak segan membangun komunikasi dengan lawan politiknya seperti Wiranto. Kebuntuan dan kebekuan hubungan antara Prabowo dan Wiranto sudah mucul sejak 1998, terkait dengan adanya isu kudeta oleh Prabowo. Tapi kebekuan itu mencair saat mereka berada dalam kubu yang sama untuk menjegal SBY pada pemilu kali ini.

Setelah Megawati menunjukan sinyal untuk tidak menerima kembali JK masuk dalam blok Teuku Umar, Prabowo rajin menyambangi JK. Bahkan muncul skenario yang ingin menyandingkan JK-Prabowo. Pertanyaan besar yang harus dijawab oleh Prabowo sekarang adalah, kemanakah hendak ia melabuhkan diri? Melihat fenomena ini, sepertinya Prabowo sedang menghitung-hitung peluang, baik sebagai capres maupun cawapres. Artinya Prabowo harus menghitung peta kekuatan partai besar yang mapan serta berpengalaman yakni Golkar dan PDIP.

Tugas terberat Golkar sekarang adalah mencari siapa yang tepat mendampingi JK sebagai cawapres. Artinya, Golkar juga harus menggaet partai lain sebagai sekutu koalisi agar dapat memenuhi syarat minimal pencapresan. Saat ini, tinggal PAN yang belum menentukan sikap kemana kendak melabuhkan hatinya. Sementara ini PPP sudah menyatakan sikapnya untuk bersama kubu Megawati. Sementara Gerindra belum secara tegas akan berlabuh kemama. Bisa jadi Gerindra menunggu sikap resmi PAN. Jika Golkar gagal menggalang koalisi dengan partai lain, maka Golkar akan kesulitan mengsung JK sebagai capres. Jika demikian, maka Golkar akan menjadi terasing di tengah hingar bingar politik 2009.

Aryanto Abidin
Wakil Presiden BEM Unhas 2006-2007

[Read More...]


Laptop, Tukul dan Anggota DPR



Laptop, Tukul dan Anggota DPR

Kembali ke laptop!”. Siapa yang tidak familiar dengan kalimat tersebut? Pasti kalimat tersebut sangat familiar di telinga kita. Adalah Tukul Arowana-pembawa acara empat mata yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta-yang mempopulerkannya. Entah berapa puluh kali dia mengulang kalimat itu dalam satu kali tayang. Inilah yang membuat Tukul menjadi presenter terlaris dan terkenal saat ini. Dengan laptopnya itu, pertanyaan-pertanyaan cerdas terus meluncur dari mulutnya. Dengan satu pertanyaan saja, mulutnya tak pernah berhenti berkreasi melontarkan pertanyaan cerdas, nakal dan lebih banyak menggelitiknya. Lalu apa hubungannya dengan anggota DPR? Jelaslah! Anggota DPR juga ingin punya laptop. Hanya saja bedanya, kalau Tukul laptopnya disediakan oleh si pemilik acara tersebut. Lalu anggota DPR, dapat laptop darimana? Simpel saja, merampok uang rakyat. Saat rapat, tinggal sebut nominal, tentukan spesifikasinya, semua setuju. “Jadi deh!” . Gampangkan merampok uang rakyat?. Beginilah gaya merampok ala anggota DPR. Nggak perlu capek-capek nodong orang. Mereka tinggal nodongkan pulpen untuk tanda tangan. Nggak seperti koboy di texas sana, yang main nodong senjata.


Kita sepertinya terkaget-kaget mendengar harga laptop yang mencapai nominal 21 juta rupiah tersebut. Pertanyaannya kenapa harus 21 juta? Atau kenapa anggota DPR tidak mampu membeli laptop? Padahal dengan gaji, plus tunjangan bulanan yang sudah melampaui nominal 100-an juta, mereka bisa membeli sendiri. Jangan hanya ngomong untuk kepentingan rakyat pas kalau ada maunya saja. Sementara di sisi lain, dengan gaji dari uang rakyat juga, mereka tidak berani berkorban untuk membeli laptop. Padahal, kalau untuk mengetik saja dengan laptop harga 5-7 juta saja sudah dapat laptop bagus. 21 juta sepertinya terlalu mahal untuk urusan mengetik. Kita begitu miris kalu meyaksikan berita di tivi yentang kursi anggota DPR saat rapat, yang hampir semuanya kosong. Ada juga yang tidur, mungkin kekenyangan makan uang haram. Atau bisa jadi semalaman habis dari panti pijat. Atau mungkin kecapekan setelah semalaman afair dengan selingkuhannya. Seperti kasus si penyanyi dangdut itu. Saya kok jadinya sok tau sih? Lalu kenapa mereka begitu nekat dengan harga selangit tersebut? Ya..., apalagi kalu bukan untuk gaya-gayaan, gengsi-gengsian. Pantasan banyak orang yang bernafsu ingin jadi anggota dewan.

Anehnya lagi, hampir tidak ada satu partai pun yang berani menyatakan menolak pengadaan laptop tersebut. Apakah partai-partai tersebut buta dan tuli, hingga tidak bisa melihat dan mendengar penderitaan rakyat yang akhir-akhir ini semakin terjepit?. Harga beras yang naik, bencana dimana-mana, lumpur lapindo yang tak kunjung berakhir, lapangan kerja yang sangat sulit, kelaparan di NTT. Ini hanyalah sekelumit persoalan bangsa yang tak kunjung henti. Sementara di sisi lain, anggota dewan yang katanya wakil rakyat, kok begitu tega menghambur-hamburkan uang rakyat. “Gila ya!”. Sepertinya saya tidak perlu merasa aneh deh dengan sikap partai seperti ini. Sertidaknya, uang untuk beli laptop tidak keluar dari kantong sendiri. Sehingga dengan demikian, partai-partai dapat setoran lebih dari anggota-angotanya. “Lho untuk apa?”. Tanya temanku yang tulalit. “So pikun lo!”. Kata teman saya yang asli betawi itu. ”Ya iyalah, 2009 kan sudah dekat”. Timpal teman saya yang satu lagi. ”Emangnya 2009 ada apa ya?”. Tanyanya lagi. “Ha…???. Masih Belum nyambung juga?. Pemilu bego!”Jelas kedua teman saya. “Kalau begitu kita boikot aja pemilu. Lanjut temanku yang tulalit. ”Tumben kamu nyambung”. Sela temanku yang asli betawi itu. ”Emang alasan kamu apa mau boikot pemilu?” Tanya temanku yang dari minang. ”Bingung-binging ku memikirkan. Capek deh!!”. jawab teman yang tilalit. ”Ha...????. Dasar tulalit, idiot, bego”. Semoga saja anggota dewan kita tidak Bego-bego dan tulalit. Jangan sampai deh. Ting...nng!.


[Read More...]


Makassar, Aku datang...!



Ahirnya sampai juga di makassar hari ini. Tepat jam lima sore kapal Tilong kabila sandar di pelabuhan Soekarno Hatta. Perjalanan yang melelahkan.......



[Read More...]


Jangan Menangis Jogjaku



Bangsa indonesia tak henti-hentinya dirundung musibah. Entah sudah berapa kali bangsa ini dirundung musibah. Mungkin sudah tak terhitung jumlahnya. Bermacam-macam musibah menimpa bangsa ini. Dari tabrakan maut kereta api, jatuhnya pesawat terbang, hilangnya helikopter secara tiba-tiba, tanah longsor, banjir bandang, gempa bumi. Tentu msih segar dalam ingatan kita musibah tsunami yang menimpa Aceh tahun 2004 lalu. Waktu itu gempa bumi dan tsunami dalam sekejap meluluhlantahkan Aceh. Muntahan air laut itu melhp sipa saja yang ada di depannya. Tragedi ini enjadi bencana nasional dan menyedot perhatian dunia internsional untuk segera menyalurkan bantuannya.

Kini musibah itu datang lagi. Letusan gunung merapi dan gempa bumi menimpa sudara-saudara kita di Jogjakarta dan jawa tengah. Musibah!, memang tak bisa diprediksi. Dtangnya dengan tiba-tiba. Tak memberui kabar kepada siappun. Hanya isyarat alam yang memberi kabar. Ia dtang membawa kejutan. Sebuah keutan yang menyakitkan. Kejutan yang meninggalkan luka dan kepedihan yang dalam. Ia tak memandang bulu. Menimpa siapa saja yang ada disekitarnya. Tak memndang tua atupun muda, besr taupun kecil, laki-laki ataupun perempuan. Tak juga gentar dengan kecangihan teknologi penangkal gempa. Pun tak pernah surut dengan dengan kokohnya bangunan penckar langit. Musibah tetap perkasa. Toh, semuanya takluk di tengah kedahsyatannya.

Tepat pukul 05.50 WIB pada sabtu pagi 27 Mei, gempa dengan kekuatan 5,9 Skala Rekhter (SR) meluluhlantahkan seisi Jogjakrta dan Jawa Tengah. Data terbaru jumlah korban yang meningal dunia untuk daerah Jogjakarta yakni lebih dari 6000 jiwa. Gejolak lam ini, seolah mempertegas keangkuhan sang pemilik jagad semesta ini, sekaligus memperlihatkan ketidak berdayaan kita. Tak ada yang mengira, ditengah orang-orang waspada akan muntahan lahar panas dari puncak semeru, Jogjakarta dan sekitarnya dihentakan dengan gempa bumi. Sungguh, ini merupakan kado menyakitkan ditengah kerisauan akan muntahan lahar panas. Mungkinkah ini cara Tuhan mengur hambanya?. Atau mungkin ini cara Tuhan menyayangi hambanya. Tapi kenapa harus dengan cara seperti ini? Haruskah mereka yang tak berdosa turut menanggung beban duka tersebut?. Rasa-rasanya, terlalu sombong kita, jika sekiranya memvonis Tuhan tidak sayang hambanya., Lalu kepada sipa kita harus bertanya? Coba kita tanya pada rumput yang bergoyang. Demikian potongan syair lagu Ebiet G Ade. Mungkin ini peringatan dari allah. Allah berfirman: Kami pasti akan menguji kalian dengan sesuatu berupa: ketakutan; kelaparan;serta kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu mereka yang ditimpa musibah maka mereka mengucapkan, Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. (QS Al Baqarah: 155-156).

Sebuah seruan untuk bertanya kepada alam. Seruan yang mengandung makna yang sangat dalam. Bersahabat dengan alam, berbuat yang tebaik untuk alam serta menjaga keseimbangan dengan alam agar tidak terjadi ketimpangan. Tidak memperlakukan alam dengan semena-mena. Kira-kira seperti itulah pesan yang terkandung dalam potongan syair lagu tersebut. Boleh jadi korban yang berjatuhan tersebut, adalah sebuah upaya menyeimbangan alam semesta ini. Mungkin semesta ini sudah tidak mampu lagi menahan beban akibat kerusajkan yang terjadi di darat dan di laut. Seperti firman Allah dalam Al-Qura'an yang berbunyi: Telah nyata kerusakan di darat dan di lautan akibat ulah manusia agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan-Nya) (QS Ar-Rum: 41).

Bayangkan!. Apa jadinya jika sekiranya manusia memiliki umur yang abadi. Maka untuk menyeimbangkannya, Tuhan memilih cara yang terbaik bagi hambanya. Rupanya mereka yang menjadi korban, lebih dulu dicintai oleh Rabb nya. Demikian halnya dengan musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Jogjakarta dan Jawa tengah.

***

Semoga bait-bait tulisan ini bisa menggugah naluri kemanusiaan kita, sekedar mengulurkan tangan meringankan beban mereka. Semoga sumbangan kita, sedikit memberi arti bagi kelangsungan hidup mereka. Musibah ini juga sekaligus mengajarkan kita akan solidaritas kemanusiaan di tengah konflik yang mengatasnamakan suku, agama dan ras. Bencana ini sekaligus memicu kesigapan kita. Semoga Allah memberikan ketegaran kepada mereka yang tertimap bencana. Rasulullah bersabda, Alangkah mengagumkan keadaan seorang mukmin; seluruh perkaranya adalah kebaikan. Jika di mendapatkan nikmat, dia bersyukur; itulah kebaikan baginya. Jika dia tertimpa musibah, dia bersabar; itupun kebaikan baginya. (HR Muslim).

Lihat saja, satu hari sesudah bencana, masyarakat kita ramai-ramai melakukan aksi solidaritas. Dari kegiatan donor darah, bazar, maupun mendirikan posko-posko penggalangan dana.. Di Makassar, posko penggalangan bencana sangat mudah kita jumpai. Dari partai politik, LSM, perusahan, hingga kampus-kampuspun ramai-ramai mendirikan posko. Tak peduli,ia kampus swasta atau negeri. Mahasiswa Unhas, entah sudah keberapa kali mendirikan posko serupa di depan pintu satu. Tentu saja kita berharap uang hasil sumbangna itu disalurksan kepada yang berhak menerimannya., jangan ada yang masuk kantong pribadi. Yang terpenting lagi adalah, pengumpulan dana ini harus dipertanggungjawabkan secara publik melalui proses yang transparan. Terakhir, hanya kata sabar dan sabar yang terucap dari bibir ini (kita semua), sabarlah saudaraku. Jangan menangis Jogjaku masih ada kami di sampingmu.

[Read More...]


Ahmadinejad, SBY dan (ke) Indonesia (an) Kita



Ahmadinejad, SBY dan (ke)Indonesia(an) Kita

Oleh Aryanto Abidin
Mahasiswa Perikanan, Presiden Partai Lingkar Cendekia Unhas
dan Staf Kebijakan Publik KAMMI Daerah Sulsel


Seperti biasa, setiap pagi saya selalu menyempatkan waktu untuk membaca surat kabar nasional langganan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) tempat saya menghabiskan hampir separuh masa kemahasiswaan saya: UKM Kopma Unhas. Setelah menyelesaikan beberapa lembar tilawaah alquran dan alma’surat, maka pekerjaan favorit saya adalah pekerjaan membaca. Dengan ditemani secangkir kopi manis, sayapun melahap menu berita yang disuguhkan di koran tersebut. Hal ini saya lakukan untuk mengimbangi rasa haus saya akan informasi yang biasa saya dapatkan dari media televisi. Maklum akhir-akhir ini saya sedang puasa nonton tivi. Mungkin saja sedang bosan dengan tayangan-tayangan gossip, kriminal, mistis serta tayangan berbau amoral lainnya. Sekali lagi, sayapun memilih pusa nonton tivi. Bukannya sok idealis, tapi ini adalah puncak kesadaran akan realitas zaman yang semakin menggila.

Pagi itu, saya membaca sebuah koran nasional. Di halaman pertama koran tersebut tepampang gambar Presiden Iran Ahmadinejad yang sedang mengakat tangannya, hampir sejajar dengan mukanya. Pertanda keakraban sebagai seorang tamu negara kepada tuan rumah (indonesia). Ya!, benar saja, presiden Iran tersebut tiba di indonesia melalui bandara Halim Perdana Kusuma pada rabu (10/5) pukul 00.00. Ahmadinejad datang ke indonesia dalam rangka kunjungan kenegaraan sekaligus membawa agenda bisnis. Mereka ingin bekerja sama dalam hal pengmbangan perminyakan.

Berita kedatangan Ahmadinejad sudah saya ketahui satu minggu sebelum kedatanagn presiden Iran tersebut. Berita ini saya peroleh dari milis langganan saya: milis KAMMI. Dalam milis tersebut, topik yang paling menggairahkan untuk didiskusikan adalah tentang kedatangan Ahmadinejad ke Indonesia. Salah satu usulan yang paling menarik dari salah seorang miliser adalah agenda aksi untuk menyambut kedatangan presiden Iran tersebut. Eits...!. Tunggu dulu, anda jangan terburu-buru untuk mngambil kesimpulan. Ini bukan aksi untuk menentang kedatangan Ahmadinejad, akan tetapi aksi yang dimaksud adalah aksi pnyambutan selamat datang kepada sang presiden, yang begitu lantang mengkampanyekan: Say no to Amerika.

Lalu Bagaimana dengan SBY?. Rasa-rasanya, sulit untuk mengatakan bahwa pemimpin negara ini berani bercloteh untuk sekedar berkata say no to Amerika. Sejak zaman orde baru, bangsa ini begitu mesra dengan negara-negara kapitalis yakni Amerika dan sekutunya. Alasannya sangat sederhana, agar (utang) bantuan-bantuan dipermudah. Tahun 1997 lalu menjadi puncak kemesran indonesia dengan kapitalis, dimana indonesia secara resmi menjadi pasien tetap lembaga donor internasional seperti IMF. Tentu saja kita sangat mafhum, siapa yang berada di balik lembaga-lembaga donor tersebut. Pada masa itu, Indonesia hampir pasti menjadi negara yang gagal (failure nation). Beberapa kali negeri ini mengalami pergantian kepemimpinan, namun tetap saja pertumbuhan ekonomi kita jalan di tempat: gali lubang tutup lubang. Yang lebih parah lagi, gaya kepemimpinan pemimpin kita justru tidak jauh beda dengan pemimpin-pemimpin sebelumnya. Mereka tidak berani mengambil jarak dengan negeri-negeri kapitalis, terkecuali Soekarno yang secara terang-terangan menantang kapitalisme.

SBY yang mantan jenderal militer tersebut, sulit untuk menjauhkan negeri ini dari negara-negara kapitalis terebut. Berbeda halnya dengan Ahmadinejad, yang kahir-akhir ini begitu santer menghiasi opini dunia lantaran proyek pengembangan tenaga nuklir di negeri itu. Oleh Amerika dan sekutunya tindakan Iran tersebut justru akan mengancam perdamaian dunia. Walaupun Iran telah beberapa kali menjelaskan kepada dunia, bahwa pengembangan nuklir yang mereka lakukan hanyalah semata-mata untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri mereka.

Lain lagi dengan Evo Morales. Presiden Bolivia tersebut dengan berani mengusir pemodal-pemodal asing yang mengelola industri-industri strategis negara tersebut. Kebijakan Nasionalisasi Morales tersebut adalah implementasi dari janji-janjinya selama masa kampanye. Sikap penolakan terhadap intervensi asing juga ditunjukan oleh Presiden Venezuela Hugo Chavez. Venezuela adalah negeri penghasil minyak terbesar di kawasan Amerika latin. Kita juga mengenal Pimpinan Cuba yang seangkatan dengan Ernesto Che Guevara, Fidel Castro yang dengan lantang menolak intervensi Amerika, walaupun ia terkadang oportunis dan kontroversial. Mereka semua adalah pemimpin-pemimpin muda yang berani. Tentu saja kita berharap SBY tidak Cuma berani dengan mahasiswa yang pada April lalu berkunjung ke Unhas. Peralatan militer lengkap di tempatkan di Unhas, bahkan mobil penjinak bom dipersiapkan khusus untuk itu.


Indonesia dan Kepemimpinan Kaum Muda

Tidak berlebihan kiranya ucapan ulama yang mengatakan bahwa Jadi “sesungguhnya tampilnya islam karena tampilnya ummat, dan sesungguhnya tampilnya ummat karena tampilnya para pemudanya. Dan tampilnya para pemuda karena kebaikan akhlaknya.”. Dalam Islam, tentu kita mengenal nama Nabi Ibrahim as. Seorang anak muda yang cerdas dan kritis terhadap kemapanan ideology yang telah menyesatkan kaumnya. Dalam usia muda ibrahim mampu mengkritisi tradisi dan keyakinan masyarakat yang menyembah berhala, termasuk orang tuanya sendiri. lebih dahsat dari itu ibrahim muda menantang penguasa yang dzalim pada waktu itu yakni Raja Namrud yang mengklaim menguasai hidup dan mati. Namun dengan kecerdasan logikanya, ibrahim meminta kepada Namrud untuk menerbitkan matahari dari sebelah barat dan menenggelamkannya di sebelah timur. Seuatu yang sangat mustahil bagi Namrud untuk melakukannya.

Ada juga Nabi Daud as. Keberanian dan kemuakannya terhadap rezim tirani jalut membawanya ke medan pertempuran untuk suatu misi khusus, membunuh jalut dengan senjata ketapelnya. Keberanian dan militansi Daud semasa muda, menjadi modal baginya untuk menjadi pemimpin negeri di masa depan. Selain itu juga, ada Yusuf muda yang mempertahankan keteguhan kepribadiannya dan dengan modal kecerdasannya Ia mampu meperbaiki kondisi ekonomi bangsa mesir pada waktu itu. Sampai akhirnya Alquran memaparkan sosok terbaik anak muda yakni Muhammad saw.

Ke-indonesia-an kita

Akankah SBY juga memiliki sifat yang satria, seperti yang disinyalir dalam kisah al-quran tersebut?. Atau setidaknya seperti Ahmadinejad, Evo Morales, Hugo Chavez. Atau seperti keberanian Fidel Castro yang walaupun usia tidak muda lagi, tetapi semangat mudanya serta semangat perlawanannya terhadap kemapanan yang coba di tawarkan oleh bangsa-bangsa kapitalis mampu ia kobarkan. Atau seperti Ismail Haniyyah sang perdana menteri Palestina.

Di tengah perkonomian bangsa yang terpuruk ini, justru berbanding trbalik dengan pola hidup pejabat-pejabatnya yang masih sering (suka) berbelanja di luar negeri. Padahal di kiri kanan mereka ratusan anak butuh pendidikan , butuh perawatan kesehatan dan lain sebagainya. Sepertinya, bangsa ini butuh kearifan dan kecerdasan untuk hidup sederhana dan tidak foya-foya serta tidak tergantung pada negara-negara kapitalis. Seperti rakyat palestina yang siap makan daun-daunan jika saja negara itu dimbargo oleh Amerika dan sekutunya. Sepertinya bangsa ini butuh rasa kindonesiaan yang kental, agar negeri ini tidak mengalami mental yang kollaps. Mungkin negeri ini butuh pemimpin-pmimpin muda yang berani dan bersmangat. Negeri ini mungkin sudah kenyang dipimpin oleh pemimpin-pmimpian tua. Tapi, kapankah negeri ini akan dipimpin oleh orang-orang muda?. Orang-orang muda yang cerdas, jujur, adil yang pada akhirnya menjadikan indonesia ini sejahtera kita tunggu saja pemilu 2009 nanti. Wallahualambishowaab.




[Read More...]


Menuju Muslim Negarawan



Menuju Muslim Negarawan Oleh : AryantoAbidin
Presiden Partai Lingkar Cendekia Unhas dan Staf Kebijakan Publik KAMMI Daerah Sulsel


Dalam risalah kaderisasi manhaj 1427 H yang dirumuskankan oleh tim kaderisasi KAMMI pusat, ada beberapa poin penting yang menjadi titik tekan dalam mendesain kader KAMMI. Point penting tersebut adalah KAMMI mampu menciptakn kader yang berorientasi pada profil muslim negarawan. Profil muslim negarawan dalam definisi risalah kaderisasi adalah kader KAMMI yang memiliki basis idiologi islam yang mengakar, basis pengetahuan dan pemikiran yang mapan, idealis dan konsisten, berkontribusi pada pemecahan problematika umat dan bangsa serta mampu menjadi perekat komponen bangsa pada upaya perbaikan.

Dalam pandangan penulis, profil muslim negarawan merupakan sebuah konsep ideal yang coba ditawarkan sebagai solusi atas krisis kepemimpinan yang terjadi selama ini. Oleh karenanya, profil muslim negarawan harus di praksiskan (diimplementasikan) secara ”radikal” di tingkatan kader. Oleh karenanya, seorang kader KAMMI harus mampu menyesuaikan diri dengan konsep tersebut, bahkan wajib hukumnya. Lalu perangkat apa saja yang harus dimiliki oleh seorang kader KAMMI dalam rangka mencapai tujuan tersebut?. Pertanyaan ini menarik untuk dimunculkan dalam kepala kita. Tentu saja ketika kita mencoba membumikan profil muslim negarawan tersebut, tentu kita harus punya modal untuk menuju ke arah tersebut.

Menurut saya, ada beberapa poin yang harus dimiliki oleh kader KAMMI untuk mengejawantahkan profil muslim negarawan tersebut. Yang pertama adalah intelectual capital atau modal intelektual, kedua spiritualitas sosial dan ketiga adalah peran KAMMI dalam politik kampus dalam hal ini adalah keterlibatan kader dalam lembaga intra kampus. Oleh karenanya tulisan ini akan membahas lebih jauh tentang ketiga poin penting terebut.


Modal Intelektual

Salah satu modal terbesar yang harus-bahkan wajib-dimiliki oleh generasi muda termasuk kader KAMMI adalah modal intelektual (intelectual capital). Untuk mengejawantahkan profil muslim negarawan, maka kader KAMMI harus memiliki intelektual yang mapan. Tapi sebelumnya, rasa-rasanya kita harus menyatukan pemahaman kita tentang makna intelektual. Karena kalau tidak seperti itu, maka akan muncul multi pretasi atas itu, sehinga pemaknaan terhadap intelektual akan bias. Untuk itu, pertanggungjawaban secara epistemologi (tentang bagaimana cara mendapatkan pengetahuan) adalah mutlak hukumnya.


Jalaludin Rahmat mendefinisikan intelektual sebagai gabungan dari ilmuwan, teknokrat dan moralis. Ilmuwan adalah orang yang bergelut dengan data dan gagasan analitis. Teknokrat adalah orang yang bergelut dalam penerapan paktis, sedangkan moralis adalah orang yang berjuang untuk menegakan dan menyebarakan gagasan normatif. Oleh karenanya, kalau kita mengacu pada definisi tersebut, maka ketiga variabel tersebut harus dimiliki oleh kader KAMMI. Sehingga KAMMI sebagai organisasi kader (harokatut tajnid) dan organisasi pergerakan (harokatut amal) mampu menjadikan kadernya sebagai bangunan yang kokoh karena kemapanan intelektualnya.


Dari uraian di atas, muncul pertanyaan, kenapa harus modal intelektual?. Jelas. Modal intelektual mutlak dimiliki oleh anak bangsa sebagai perangkat untuk membaca dan menganalisa fenomena yang terjadi di sekitarnya. Semakin banyak mengkaji wacana-wacana sosial maka akan semakin peka dan semakin tinggi pembacaannya tentang kondisi kebangsaan yang terjadi hari ini.


Kadang-kadang kita mendikotomikan (memisahkan) bahwa wacana-wacana sosial hanyalah milik segelintir orang yang bergelut dengan ilmu-ilmu sosial. Sehingga merekalah yang menjadi pengguna yang sah atas ilmu tersebut. Padahal, ilmu-ilmu sosial merupakan perangkat analisa yang paling tepat dalam menganalisa fenomena sosial yang terjadi di masyarakat kita. Di sisi lain, ada ”pengkafiran” terhadap terhadap buku-buku tertentu, lantaran diangap ke-kiri-an atau ke- kanan-an atau ekstrimlah. Bukankah ilmu adalah sesuatu yang bebas nilai?. Kenapa kita takut bersentuhan dengan buku-buku yang terlanjur kita anggap sebagai buku ”kiri”. Walaupun sebenanya saya tidak sepakat dengan pengelompokan seperti itu. Ada banyak alasan atau justifikasi untuk tidak bersentuhan dengan buku yang terlanjur diangap kiri tersebut.


Alasan sederananya adalah takut terpengaruh oleh doktrin buku tersebut. Penulis berpendapat, kalau demikian keadaannya, maka sebaiknya orientasi membaca buku itu yang perlu kita luruskan. Jangan bukunya yang kita kafirkan atau dianggap kiri. Dalam pahaman penulis, tujuan membaca buku adalah untuk menambah referensi tentang bacaan kita bukan untuk mengambil mentah-mentah apa yang diajarkan atau doktrin buku tersebut. Pola pikir seperti ini harus diruntuhan dalam alam pemikiran kader KAMMI, agar tidak ketinggalan dari kader-kader dari elemen gerakan lain.


KAMMI dan Politik Kampus

Tidak bisa dipungkiri, bahwa kampus adalah tempat bersemayamnya cadangan pemimpin masa depan bangsa. Sejarah telah membuktikan bahwa tokoh-tokoh besar dan berpengaruh pernah digembleng di kampus. Soekarno-Hatta misalnya. Kedua tokoh ini menjadi founding father bangsa ini dan menjadi tokoh sentral dalam sejarah pergerakan kemerdekaan bangsa indonesia. Kampus sebagai miniatur suatu negara, menjadi tempat yang layak, karena di dalamnya terjadi proses kaderisasi untuk menyemai benih-benih pemimpin bangsa.


KAMMI sebagai organisasi yang berbasis ekstra kampus harus mampu memanfaantkan potensi ini. Untuk memainkan peran itu, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh KAMMI dalam mengoptimalkan perannya di ranah politik kampus. Pertama, penguatan kaderisasi. Pembentukan kader yang memiliki kualitas intelektual dan kepahaman sisah (politik) serta pengetahuan organisasi yang mapan mutlak dilakukan dilakoni oleh KAMMI. Proses kaderisasi tidak lagi terfokus atau bermain pada wilayah mushallah, sudah saatnya kaderisasi siasah diserahkan sepenuhnya kepada KAMMI.


Sebagai sebuah organisasi siasah, tentunya KAMMI harus mempertegas posisinya serta lebih cerdas memainkan perannya dalam hal keterlibatanya pada tataran kebijakan kampus. Untuk itu, penguatan basis kader adalah syarat mutlak untuk terlibat politik kampus termasuk dalam hal keterlibatannya di struktur lembaga kemahasiswaan. Di lingkup Sulsel atau boleh dibilang indonesia bagian timur ecara umum, bahwa penguatan kader di tingkat cultur (di fakultas) masih belum optimal bahkan minim dari segi kuantitas. Maka jangan heran bila kader KAMMI selalu dipersepsikan sebagai kader mushallah tulen.


Sehingga, ketika ada kepentingan yang ingin digolkan, tak jarang terjadi pertarungan wacana antara kelompok yang anti mushalla. Bisa jadi, konflik tersebut dipicu karena style yang kita bawa sangat eksklusif sehingga komunikasi tidak terbangun dengan kuat. Dalam bahasa sederhananya adalah dakwah masih bersifat tertutup yakni masih berkutat pada mushallah dan sejenisnya. Sekarang, sudah saatnya KAMMI hengkang dari mushallah dan berkonsentrasi secara total di wilayah siyasa untuk membangun basis yang kuat di tingkat lembaga kemahasiswaan.


Kedua,
terlibat dalam struktur lembaga internal kemahasiswaan. Hal ini perlu, mengingat kebutuhan dakwah kampus sebahagian besar sangat ditentukan oleh kebijakan-kebijakan yang sifatnya birokratis atau berasal dari struktur kelembagaan. Oleh karenanya, membangun komunikasi yang baik dan intens dengan tokoh-tokoh mahasiswa dan penentu kebijkan ditingkat lembaga kemahasiswaan adalah suatu keharusan.


Ketiga,
membangun komunikasi dan membuka jaringan dengan pihak pengambil kebijakan di tingkat fakultas dan universitas. Dan yang tak kalah pentingnya juga adalah membangun komunikasi dengan perangkat kampus yang lainnya seperti unit kegiatan mahasiswa (UKM) dan penerbit kampus maupun radio kampus. Hal ini perlu, mengingat misi dakwah lewat jalur siyasah yang kita bawa tersebat dengan cepat dan diterima oleh semua elemen kampus.


Keempat,
membangun ketokohan. Disadari atau tidak, ketokohan merupakan suatu hal penting yang dapat mempengaruhi tingkat penerimaan terhadap suatu oraganiasi yang representasikan. Sehingga pencitraan terhadap oraganisasi yang diwakilinya juga akan semakin bagus. KAMMI pun harus meakukan hal yang serupa. Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk memunculkan ketokohan. Misalnya melalui forum diskusi, bedah buku, seminar dan menyampaikan gagasan sert ide-ide cerdas melalui media, baik di tingkat kampus maupun media massa atau bila perlu dengan menulis dan menerbitkan buku.


Spiritualitas Sosial

Salah satu perdebatan yang menggairahkan dikalangan aktivis dakwah adalah bagaimana mengejawantahkan nila-nilai ke-Tuhan-an dalam diri kita atau disebut dengan kesalehan pribadi. Selama ini, orientasi dakwah hanya berkutat pada upaya mewujudkan kesalehan pribadi bukan pada kesaehan social. Maka jangan heran, kalo ada kelompok dakwah yang mengklaim merekalah yang paling benar. Kondisi ini sangat rentan dengan konflik internal. Misbah Sohim Haris menegaskan bahwa makna dakwah yang lebih luas adalah upaya untuk menciptakan sebuah komunitas yang meniti dan memegangi kebenaran dan kebaikan. Jadi, tujuan dakwah yang paling tinggi adalah terciptanya sebuah tatanan masyarakat yang baik, indah, tinggi dan luhur atau dalam terminologinya Fazlur Rahman disebut sebagai sebuah masyarakat yang imani dan menjujung tinggi nilai kemanusiaan. Masyarakat yang bertauhid, egaliter dan berkeadilan.


Dalam apaya mewujudkan profil muslim negarawan maka kader KAMMI harus mampu mendorong kearah terciptanya pribadi yang memiliki kesalehan sosial. Kesalehan sosial merupakan modal utama dalam tataran praksisnya (proses implementasinya). Bukankah seorang yang beriman adalah orang yang paling kritis terhadap situasi dan kondisi sosialnya?. Sehingga ia dapat berbuat sesuatu untuk kondisi sosialnya dan berbuat sesuatu untuk mengubah kondsi buruk menjadi kondisi yang kondusif sehingga dapat menjamin kehidupan bersama.


Dalam pandangan penulis modal intelektual, kampus dan spiritualitas sosial adalah pilar utama dalam upaya mendorong ke arah profil muslim negarawan. Modal intelektual adalah perangkat keras sebagai salah satu prasyarat untuk mendorong ke arah terwujudnya profil muslim negarawan. Kampus adalah perangkat pendukung dalam menciptakan dan menumbuhkan modal intelektual. Proses di kampus sifatnya temporal atau sementara.


Sedangkan spiritualitas sosial adalah kemestian yang harus dimiliki dalam rangka membumikan nilai-nilai ketuhanan dalam suatu masyarakat. Proses yang berlangsung di dalam masyarakat bersifat kontemporer. Oleh karenanya KAMMI sebagai organisasi kader (harokatut tajnid) dan organisasi pergerakan (harokatut amal) harus mampu mengkondisikan kadernya untuk memiliki ketiga pilar tersebut. Sebab kalau tidak, maka KAMMI tidak akan mampu melahirkan tokoh yang mengakar. Kemudian lambat laun KAMMI mati secara mengenaskan . Wallahulambishowaab.


[Read More...]


Perempuan di Etalase Publik




Oleh Aryanto Abidin
Penulis adalah anggota non aktif Forum Lingkar Pena (FLP) wilayah Sulsel,

Perempuan!. Memperbincangkannya, tak akan ada habis-habisnya. Selalu saja ada waktu untuk membicarakannya. Di segala ruang dan waktu, selalu ada tempat untuk melukiskan segala kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Di tivi dan koran selalu saja ada berita tentangnya. Koran dan majalah pun tidak ingin ketinggalan. Secara khusus juga menerbitkan majalah tentang perempuan. Termasuk yang menghbohkan akhir-akhir ini adalah Majalah Playboy. Di kamar kost laki-laki pun, perempuan selalu menjadi topik yang nggak ada matinya. Apalagi kalau sudah menyangkut perempuan idaman, malampun seperti siang.

Dalam dunia seni, perempuan merupakan inspirasi yang maha agung guna melahirkan karya seni. Bahkan Leonardo da Vinci melahirkan sebuah lukisan perempuan yang diberi judul Monalisa. Alhasil, karya ini menjadi karya termahal dan menyejarah.. Keindahan tubuhnya terkadang menjadi inspirasai yang menjanjikan, hingga lukisan perempuan telanjangpun juga dianggap sebagai karya seni yang maha dahsyat.

Prempuan juga selalau menjadi inspirasi dalam dunia musik. Sampai-sampai group musik Ada Band menciptakan sebuah lagu khusus tentang perempuan dengan judul Karna wanita ingin dimengerti. Lagu yang begitu renyah dan enak di dengar. Terkadang menyentil naluri saya untuk segera menuntaskan masa lajang saya, eii…ts. Untuk membunuh sepi, sesekali saya mendendangkannya. Tidak!, ini hanyalah sebuah lagu, dia tidak boleh mendominasi pikiran dan batin saya.

Dalam suatu kesempatan, saya mengunjungi sebuah tempat perbelanjaan (mall) termegah di kota ini. Saat itu, sedang berlangsung sebuah promo mobil luaran baru dari sebuah perusahaan otomotif, dan memamerkannya di atrium mall tersebut. Ruang pamer yang terletak di lantai dasar tersebut, membuat mata para pengunjung mall harus rela berpapasan dengan suasana promo. Bukan karena mobilnya, tapi karena perempuan sexy yang mendampingi mobil yang dipamerkan.

Demikian juga dengan kedua mata saya. Mata sayapun menyambar beberapa mobil mewah yang terpajang di ruangan itu. Tiap mobil yang dipajang disandingkan dengan perempuan cantik nan sexy. Perempuan-perempuan itu mengenakan baju super ketat dengan sedikit belahan di bagian dada, ditambah rok mini yang hanya sampai paha serta sepatu hak tinggi. Semakin serasilah dengan mobil mewah yang berada di sampinya. Perempuan-perempuan cantik nan sexy itu siap melempar seyum manis kepada pengunjung yang lalu lalang di sekitarnya. Dengan sedikit senyum manis dan gerakan yang menggoda mangsapun terperangkap.

Beberapa pengunjung mendekati mobil yang dipajang. “Boleh dicoba kok Mas!”. Perempuan itu menawarkan untuk sekedar memegang stir mobil dan mencoba menghidupakan mobil. Lalu dengan nada bercanda dan sedikit gombal pengunjung laki-laki tersebut menawar balik, “bagaimana kalau mbak yang saya coba duluan”. Perempuan penjaga mobil tersebut cuma bisa senyum malu-malu. Entah itu adalah sinyal negative atau positif. Kalau sinyal positif, maka akan berlanjut di meja makan dan kemungkinan akan berakhir di kamar hotel.

Mobil yang sudah tampak mewah dan sporti tersebut, justru semakin menawan dengan kehadiran perempuan cantik nan sexy di sampingnya. Mata saya tak kuasa menahannya. Pikir saya, betapa bodohnya perempuan-perempuan itu, kok mau-maunya dipajang seperti mobil-mobil mewah itu. Mungkinkah hanya numpang keren dibalik harga mobil yang melangit tersebut?. Sehingga dengan begitu akan meninggikan derajatnya. Entahlah!. Hanya merekalah yang mampu menjawabnya dengan pasti.

Saya tidak bisa membayangkan, seandainya perempuan yang dipajang bersama mobil tersebut adalah anak saya. Mungkin naluri kebapak-an saya tidak akan tega membiarkannya. Tapi kalau seandainya perempuan tersebut adalah istri saya, maka saya akan melarangnya. Saya tidak bisa membayangkan betapa ribuan mata yang memadati mall tersebut menikmati kemolekan tubuhnya secara gratis. Dalam benak saya terbesit Tanya, adakah korelasi antara mobil mewah trsebut dengan perempuan cantik nan sexy?. Pertanyaan ini mungkin oleh sebahagian orang dianggap konyol dan terlalu berlebihan. Tidak berlebihan kiranya jika saya mengatakan kalau perempuan-perempuan tersebut hanya akan menjadi “penyedap mata” pengunjung mall.

Fenomena terebut hanyalah sedikit dari realitas keseharian kita tentang perempuan. Di negeri ini,bahkan ada lembaga pemerintah yang khusus menangani perempuan. Entah sudah berapa tahun lembaga tersebut berdiri di negeri ini. Lembaga tersebut bernama Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Suatu kementrian yang secara khusus memberdayakan perempuan dan menangani masalah-masalah prempuan. Namun peranan lembaga ini masih belum optimal dalam upaya meningkatkan citra perempuan.

Terkait dengan istilah kementerian tersebut, saya pernah dikritik oleh seorang akhwat pada suatu kesempatan rapat. Sebelum-sebelumnya, saya begitu enjoy menggunakan istilah pemberdayaan terhadap suatu jabatan dalam structural lembaga kemahasiswaan. Saya dikritik habis-habisan, “kenapa tidak menggunakan istilah pengembangan potensi perempuan. Emangnya perempuan itu tidak memiliki potensi, apa?”. Kata pemberdayaan, kedengarannya terlalu komersil. Seolah-olah potensinya hanya dieksploitsi. Maka pantas saja jika selama ini perempuan dieksploitasi potensinya. Terutama potensi fisiknya. Lihat saja, kalo ada acara penyerahan hadiah pada even-even tertentu.

Perempuan-perempuan cantik membawakan nampan berisi kalung bunga, medali atau trophy untuk kemudian diserahkan kepada pejabat yang bertugas mengalungkan atau memberikan trophy kepada sang pemenang even tersebut. Demikian juga dengan pejabat Negara, setiap kedatangannya di daerah-daerah disambut oleh perempuan-perempuan cantik dengan tarian khas daerah masing-masing.

Lalu bagaimana dengan kehidupan bermahasiswa kita?. Kalau kita mau bicara aktivis lembaga yang perempuan, bisa dihitung jari. Sangat jarang perempuan yang jadi ketua lembaga kemahasiswaan. Kalaupun ada, paling-paling di fakultas yang di dominasi perempuan. Biasanya posisi yang selalu digemari adalah sekertaris, bendahara atau menjadi protokol pada acara tertentu. Kadang-kadang seorang aktivis-yang laki-laki tentunya-menjadi cerdas dan kreatif serta bergairah bila dalam suatu forum dihadiri perempuan. Pertanyaan sederhananya adalah, kenapa perempua hanya mau ditempatkan pada second position?. Padahal memiliki potensi yang tak jauh beda dengan laki-laki.

Mungkinkah mereka terlalu disibukan dengan urusan gincu dan bedak?. Entahlah!. Tiba-tiba saja Seorang teman bertanya kepada saya, “seperti apa perempuan idaman kamu?”Saya menjawab, perempuan berjilbab, wajah keibuan, cerdas dan menarik.“Bagaimana dengan soal usia?” lanjutnya. “Saya lebih suka yang usianya lebih tua dari saya ”. jawab saya. “Kamu sendiri?”lanjut saya..”Saya lebih suka daun muda.”. Kenapa? Tanyaku. “biar tetap awet muda”jawabnya. Kamipun tertawa terbahak.,ha…ha….ha…
[Read More...]


IDEOLOGI, PERLUKAH DIPERTAHANKAN?



Oleh: Aryanto Abidin Staf Kebijakan Publik KAMMI Daerah Sulsel
bisa dikirimi e-mail lewat: aryanto@eramuslim.com atau al_akh_mbojo81@yqhoo.com


Ada yang menarik yang perlu kita cermati tentang kehidupan berbangsa dan bernegara kita, yaitu masalah ideologi. Ideologi merupakan landasan pokok dimana suatu negara atau dalam suatu bentuk kelembagaan meletakan harapan-harapan atau cita-cita yang disepakati bersama. Jadi, apa yang telah menjadi kesepakatan bersama, haruslah berjalan di atas roda ideologi, yang mana ideologi itu sendiri merupakan sesuatu yang telah dan harus disepakati secara bersama-sama pula. Ideologi pertama kali dikemukakan oleh D. Tracy, bahwa ideologi adalah sebuah pemahaman atau ide konseptual yang mampu melihat wajah dunia dengan ketertarikannya pada masalah-masalah sosial (Sosicial interest) dan mampu menawarkan “problem solving” atau pemecahan masalah dalam suatu lembaga kemasyarakatan.


Kalau kita definisikan secara harfiah, maka ideologi itu sendri terdiri dari dua suku kata yakni; Ideo yang berarti ide dan logos yang berarti ilmu. Merujuk pada pengertian secara harfiah tersebut, maka dengan subjektivitas saya, ideologi itu sendiri dapat diartikan ilmu tentang ide-ide. Definisi ini bukanlah definisi yang baku, akan tetapi tidak menutup kemungkinan beribu-ribu definisi yang bercokol dalam setiap kepala kita yang siap meramaikan lembaran putih ini. Kalau benar demikian adanya, maka ijinkanlah saya meminjam definisi ideologi menurut Jack C. Plano & Roy Olton1, bahwa ideologi merupakan sebuah kekuatan dinamis yang setara dengan kekuasaan karena kepaduan dan vitalitas yang diciptakan nya mampu untuk dikendalikan menghadapi negara atau kelompok lain. Merujuk pada definisi Jack C. Plano dan Roy Olton tersebut, maka jelaslah bahwa ideologi itu merupakan landasan-landasan yang memiliki kekuatan dalam membentuk karakter serta cara berpikir suatu masyarakat.


APAKAH IDEOLOGI HARUS TETAP DIPERTAHANKAN?
Adalah benar bahwa dalam suatu lembaga kemasyarakatan memerlukan ideologi. Sangat mustahil dalam suatu lembaga kemasyarakatan menolak adanya ideologi. Hal ini disebabkan Karena ideologi merupakan acuan pokok atau kerangka dasar dinamis yang menjadi energi kreatif dalam proses dinamisasi suatu lembaga. Lembaga swadaya masyarakat atau yang lebih dikenal dengan nama LSM merupakan salah satu contoh kecil lembaga yang ada dalam suatu masyarakat. Sebuah pemahaman/ide itu bisa dikatakan sebagai sebuah ideologi apabila mampu memuaskan batin, mampu memperbaiki hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan sang pencipta. Suatu ideologi dianggap berhasil apabila mampu menanamkan nilai pada obyek ideologi dalam hal ini masyarakat. Kadang-kadang idiologi juga dapat menjadi titik acuan dalam memandang suatu realitas atau kondisi yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat.


Kalau kita kembali pada pemahamannya Jack C. Plano dan Roy Olton bahwa sebuah ideology sangat peka terhadap sifat system politik, pelaksanaan menjalankan kekuasaan, peran individu, sifat sistem ekonomi dan sistem sosial, serta tujuan masyarakat. Sebagai sebuah system keyakinan yang mendasar, sebuah ideologi tidak hanya menggabungkan nilai-nilai dasar masyarakat tetapi ideologi itu sendiri menjadi nilai utama yang harus dipertahankan dan dalam kasus tertentu ideologi harus disebarluaskan kepada masyarakat lain.


Melalui tulisan ini saya ingin mengajak dari setiap pribadi kita untuk kembali menengok sejarah perkembangan ideologi, dalam hal ini ideologi kapitalis dan ideologi komunisme. Dimana kedua ideologi ini sebagai repsentatif atau mewakili topik yang sedang kita bahas. Kedua ideologi tersebut pernah mewarnai sejarah perpolitikan dunia pada akhir abad ke-19, bahkan masih merupakan topik perbincangan yang hangat dalam konteks sekarang. Peta perpolitikan internasionalpun sempat terpolarisasi menjadi dua blok yakni blok barat di bawah bendera kapitalisme (Amerika cs) dan blok timur di bawah bendera komunisme (Unisoviet cs). Ideologi komunis muncul sebagai lawan dari ideologi kapitalisme. Kapitalisme merupakan teori system ekonomi perdagangan bebas atau bisa dikatakan bahwa ideologi kapitalis ini selalu menekankan kepada kepemilikan modal, yang artinya hanya orang-orang yang memiliki modal yang besar yang menguasai factor-faktor produksi dan hal ini bersifat individual. Hal inilah yang merangsang lahirnya komunisme. Komunisme merupakan ideologi yang menghendaki penghapusan pranata kaum kapitalis serta berkeinginan membentuk masryarakat kolektif agar tanah dan modal (faktor produksi) dimiliki secara sosial dan pertentangan kelas serta sifat kekuatan menindas dari negara tidak berlangsung lagi. Dalam setiap upaya-upaya untuk menanamkan ideologinya itu, Paham komunis berusaha mengambil jalan pintas yakni dengan jalan revolusi dengan metode kekerasan. Hal inilah yang menyebabkan antipati masyarakat dunia terhadap paham ini. Kalau kita membuka lembaran sejarah berikutnya, Afganistan yang pernah berada di bawah jajahan Unisoviet mengalami tragedi kemanusiaan yang panjang akibat cara-cara kekerasan yang dilakukan Penganut paham komunis tersebut. Lalu bagaimana dengan Indonesia?. Di Indonesia paham komunisme mencoba merasuk dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Dalam rangka penanaman nilai komunis tersebut, paham ini telah dua kali mengalami kegagalan yakni sekitar pertengahan tahun 1950-an dan pada pertengahan tahun 1960-an. Jadi sekali lagi saya ingin menegaskan bahwa dalam suatu lembaga kemasyarakatan itu secara mutlak memerlukan ideologi. Merunut pada penjelasan sejarah yang dipaparkan di atas, Ideologi tidak selamanya harus dipertahankan. Ideologi dalam suatu lembaga kemasyarakatan bisa saja berubah selama ia tidak bisa memenuhi syarat-syarat penerimaan ideologi itu sendiri.
KESIMPULAN
Ideologi merupakan acuan pokok atau kerangka dasar dinamis yang menjadi energi kreatif dalam proses dinamisasi suatu lembaga. Ideologi juga merupakan seperangkat nilai yang diyakini kebenarannya oleh suatu bangsa dan digunakan sebagai dasar untuk menata masyarakat dalam bernegara. Ideologi mengandung nilai-nilai dasar yang hidup dalam sistem kehidupan masyarakat dan mengandung idealisme yang mampu mengakomodasikan tuntutan perkembangan zaman kedalam nilai-nilai dasar yang sudah dikristalisasikan dalam pancasila dan UUD 1945. Negara adalah lembaga kemsyarakatan dalam skala makro, untuk itu tentunya negara juga membutuhkan yang namanya ideologi. Negara merupakan patokan bagi setiap lembaga kemasyarakatan dalam lingkup mikro. Bila kita menengok kembali sejarah maka akan kita dapati bahwa ideologi-ideologi itu tidak selalu dipertahankan, karena mengingat syarat-syarat penerimaan ideologi itu sendiri. Yakni harus mampu memuaskan batin, mampu memperbaiki hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan sang pencipta. Ketika syarat itu belum terpenuhi maka sangat mustahil suatu ideologi itu bisa dipertahankan. (aryanto81)
[Read More...]


Popular Posts

Popular Posts Widget
 

Categories

Artikel (25) Info Sehat (3) International (5) Internet (8) Islam (3) Keindonesiaan (3) Kemahasiswaan (3) Resensi (1) Tips (8) Tips menulis (2) Zionis (3) berita (2) blog (2) celoteh (5) olahraga (5) politik (15)

Recent Comments

Stay Connected

http://www.text-link-ads.com/xml_blogger.php?inventory_key=L6TKZHMZ15BNNYYQULG7&feed;=2

About Me

My Photo
aryantoabidin
Welcome to my blog. Aryanto Abidin. That is my original name, while cyber name for this blog. I just ordinary people who are learning to read and understand the existence and I think about indonesiaan.
View my complete profile

Popular Posts

Return to top of page Copyright © 2010 | Platinum Theme Converted into Blogger Template by HackTutors